Dalam perkembangannya teori evolusi Darwin
mendapat tantangan (terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori
penciptaan – Universal Creation), dukungan dan pengkayaan-pengkayaan. Jadi,
teori sendiri juga berevolusi sehingga teori evolusi biologis yang sekarang
kita kenal dengan label “Neo Darwinian” dan “Modern Sintesis”, bukanlah murni
seperti yang diusulkan oleh Darwin. Berbagai istilah di bawah ini merupakan
hasil pengkayaan yang mencerminkan pergulatan pemikiran dan argumentasi ilmiah
seputar teori evolusi: berdasarkan kecepatan evolusi (evolusi quasi dan evolusi
quantum); berdasarkan polanya (evolusi gradual, evolusi punctual, dan evolusi
saltasi) dan berdasarkan skala produknya (evolusi makro dan evolusi mikro).
Darwin sempat mengguncangkan dunia
ilmu pengetahuan. Banyak pihak ternyata salah dalam menafsirkan penemuannya.
Darwin—dalam teori
evolusinya—menyatakan bahwa semua mahluk hidup yang ada di Bumi berasal dari nenek
moyang yang sama dan mengalami modifikasi. Dengan kata lain, ia menyebutkan
bahwa spesies bukanlah sesuatu yang kekal, melainkan berevolusi dari berbagai
spesies yang telah ada.
Sebenarnya, Teori Evolusi dicetuskan
Darwin berdasarkan observasinya dalam beberapa ekspedisi, salah satunya adalah
perjalanan menggunakan kapal H.M.S Beagle.
Perkembangan Teori Evolusi
Banyak hal dan pemikiran ahli lain yang mempengaruhi
perkembangan teori Darwin, antara lain:
Ekspedisi ke lautan Galapagos ditemukan bahwa perbedaan
bentuk paruh burung Finch disebabkan perbedaan jenis makanannya.
Geolog Charles Lyell (1830) menyatakan bahwa
batu-batuan di bumi selalu mengalami perubahan. Menurut Darwin, hal-hal
tersebut kemungkinan mempengaruhi makhluk hidupnya. Pikiran ini juga
didasarkan pada penyelidikannya pada fosil.
Pendapat ekonom Malthus yang menyatakan adanya
kecendrungan kenaikan jumlah penduduk lebih cepat dari kenaikan produksi
pangan. Hal ini menimbulkan terjadinya suatu persaingan untuk kelangsungan
hidup. Oleh Darwin hal ini dibandingkan dengan seleksi yang dilakukan oleh
para peternak untuk memperoleh bibit unggul.
Pendapat beberapa ahli seperti Geoffroy (1829), WC
Wells (1813), Grant (1826), Freke (1851), dan Rafinisque (1836).
Penganut Teori evolusi menyarankan bahawa daya
penggerak dalam perkembangan evolusi ialah proses mutasi.Mutasi adalah satu
perubahan yang terjadi dengan mendadak dan ada yang boleh diwariskan kepada
keturunanya tetapi keturunan itu pada kebiasaannya tidak boleh menyesuaikan
diri dengan keaadaan sekitar.Umpamanya kebanyakkan variasi-variasi tumbuhan
pertanian dan haiwan ternakan adalah akibat mutasi,tetapi bentuk seperti itu
selalunya dihapuskan oleh seleksi tabii.Ini adalah oleh kerana mutasi pada
lazimnya tidak dapat menyesuaikan diri kepada keadaan sekitarnya.Ianya tidak
membawa perubahan yang beransur iaitu sedikit demi sedikit bagi sesuatu anggota
tetapi berhenti dan terbatas sebagaimana sifat itu dilihat pada mulanya.Ini
adalah bertentangan dengan kepercayaan Darwin bahawa evolusi itu adalah sutu
proses yang beransur membawa perubahan kepada sesuatu sifat yang berguna
sedikit demi sedikit dalam jangka masa yang panjang hingga terjelma spesis yang
baru.
Dengan berkembangnya ilmu
genetika, teori itu diperkaya sehingga muncul Neo Darwinian. Menurut Lemer
(1958), definisi seleksi alam adalah segala proses yang menyebabkan pembedaan
non random dalam reproduksi terhadap genotype; atau allele gen dan kompleks gen
dari generasi ke generasi berikutnya.
Anggota populasi yang membawa
genotype yang lebih adaptif (superior) berpeluang lebih besar untuk bertahan
daripada keturunan yang inferior. Jumlah individu keturunan yang superior akan
bertambah sementara jumlah individu inferior akan berkurang dari satu generasi
ke generasi lainnya. Seleksi alampun juga masih bekerja, sekalipun jika semua
keturunan dapat bertahan hidup dalam beberapa generasi. Contohnya adalah pada
jenis fauna yang memiliki beberapa generasi dalam satu tahun. Jika makanan dan
sumberdaya yang lain tidak terbatas selama suatu musim, populasi akan bertambah
seperti deret ukur dengan tidak ada kematian di antara keturunannya. Hal itu
tidak berarti seleksi tidak terjadi, karena anggota populasi dengan genotype
yang berbeda memproduksi keturunan dalam jumlah yang berbeda atau berkembang mencapai
matang seksual pada kecepatan yang berbeda. Musim yang lain kemungkinan
mengurangi jumlah individu secara drastic tanpa pilih-pilih. Jadi pertumbuhan
eksponensial dan seleksi kemungkinan akan dilanjutkan lagi pada tahun
berikutnya. Pebedaan fekunditas, sesungguhnya juga merupakan agent penyeleksi
yang kuat karena menentukan perbedaan jumlah individu yang dapat bertahan hidup
atau dan jumlah individu yang akan mati, yang ditunjukkan dalam angka kematian
(Dobzhansky, 1970).
Darwin telah menerim, namun dengan
sedikit keraguan, slogan Herbert Spencer “survival of the fittest in the
struggle for life” sebagai altenatif untuk menerangkan proses seleksi alam,
namun saat ini slogan itu nampaknya dipandang tidak sepenuhnya tepat. Tidak
hanya individu atau jenis yang terkuat tetapi mereka yang lumayan pas dengan
lingkungan dapat bertahan hidup dan bereproduksi. Dalam kondisi seleksi yang
lunak atau halus semua individu atau jenis pembawa genotype yang bermacam-macam
dapat bertahan hidup ketika populasi berkurang. Individu yang fit (individu
yang sesuai dengan lingkungan dapat bertoleransi dengan lingkungan) tidak harus
mereka yang paling kuat, paling agresif atau paling bertenaga, melainkan mereka
yang mampu bereproduksi menghasilkan keturunan dengan jumlah terbanyak yang
viable dan fertile.
Seleksi alam tidak menyebabkan
timbulnya material baru (bahan genetic yang baru yang di masa mendatang akan
datang diseleksi lagi),melainkan justru menyebabkan hilangnya suatu varian
genetic atau berkurang frekuensi gen tertentu. Seleksi alam bekerja efektif
hanya bila populasi berisi dua atau lebih genotype, yang mana dari varian itu
ada yang akan tetap bertahan atau ada yang tereliminasi pada kecepatan yang
berbeda-beda. Pada seleksi buatan, breeder akan memilih varian genetic
(individu dengan genotype) tertentu untuk dijadikan induk untuk generasi yang
akan datang. permasalahan yang timbul adalah dari mana sumber materi dasar atau
bahan mentah genetic penyebab keanekaragaman genetic pada varian-varian yang
akan obyek seleksi oleh alam. Permasalahan itu terpecahkan setelah T.H Morgan
dan kawan-kawan meneliti mutasi pada lalat buah Drosophilia. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa proses mutasi menyuplai bahan mentah genetic yang menyebabkan
terjadinya keanekaragaman genetic dimana nantinya seleksi alam bekerja
Islam Dan Teori
Darwin
Secara ilmiah teori evolusi
Darwin utama belum dapat dikatakan runtuh, karena sebelum ditemukan bukti-bukti
empiris yang bertentangan dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan
dalam teori itu masih dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak
kalangan masih meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agama.
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an
dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi
untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang
dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai
substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita
makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses
metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma),
kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran
antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian
berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna
Sebagai bukti yang konkrit di
dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embriyo berada di dalam
kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu,
dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam
perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang
menutup/membungkus anak dalam rahim)
Saat ini Indonesia kebanjiran
buku-buku Islam yang diproduksi Dr. Harun Yahya yang “menyerang” teori Darwin.
Dari segi teologis ada kekuatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari
kehidupan, namun Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya
sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan
“Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan
materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas.
Kita menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini
mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap
saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat di balik semua gerakan evolusi itu…”.
Tentang prinsip survival of the littest, Bagir justru membenarkannya dan kita
harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari
dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alqur’an. Dingin dari
dari dua sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis.
Sekarang para sarjana tudak cukup
menyelidiki fosil2-fosilnya saja.
Tetapi sperma dan ova di dalamnya
banyak hal seperti unsure- unsurnya. Dengan begitu para sarjana tersebuk tidak
mungkin lagsung percaya dengan satu kali percobaan
Sampai disinilah focus terakhir
kekalahan teori Darwin bila zaman sekarang masih ada yang mempercayai teori
evolusi manusia.
Sumber :
· Sober, E. 1993.
Phylosophy of Biology. Westview Press. San Fransisco.
· Yahya, H. 1987. Keruntuhan Teori Evolusi.
Penerbit Dzikra. Bandung.
Asal Mula Borobudur
A. Keterangan Umum
Nama aslinya "Dasabhumi Sambhara Budara" yang berarti "Bukit Sepuluh Tingkatan Kerohanian", yang disingkat menjadi Sambhara Budara, lalu Bharabudara dan dengan logat Jawa menjadi Borobudur.
Borobudur menghadap ke arah Timur dan didirikan di atas bukit pada tahun 826, prasastinya dikeluarkan pada tahun 824.
Pembuatannya dipercayakan kepada seorang arsitek dari India bernama Gunadharma. Dahulu kala Borobudur seluruhnya dicat putih dan berada di tengah-tengah sebuah danau.
Borobudur berukuran 123 X 123 m.; tinggi aslinya 42 m. (ujungnya telah patah ± 8 m.) dan terdiri atas empat bagian:
a. alas bawah
b. 5 (lima) lapis lingkaran persegi yang berlekuk sehingga berbentuk segi 20.
c. 3 (tiga) lapis lingkaran bundar
d. 1 (satu) stupa besar di tengah-tengah.
Kesemuanya ini melambangkan "Dasa Bhumi" atau 10 (sepuluh) Kesempurnaan (Paramita) yang harus dimiliki oleh seorang Bodhisatva untuk dapat menjadi Buddha.
Lapisan-lapisan yang berbentuk segi 20 diberi serambi, sehingga merupakan lorong-lorong. Dinding serambi-serambi ini, baik di bagian luar maupun di bagian dalam diberi relief-relief (gambar-gambar pahatan) yang mengkisahkan cerita-cerita tertentu. Pada dinding dalam dari lorong pertama terdapat relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama berdasarkan naskah "Lalita Vistara".
Pada dinding luarnya terdapat cerita tentang kelahiran Pangeran Siddharta sebagai Bodhisatva menurut kitab "Jatakumala".
Pada lorong yang lain terdapat cerita tentang para Bodhisatva lain dari kitab "Gandavyuha"; sedang di kaki candi yang tertutup terdapat lukisan-lukisan yang berhubungan dengan hukum Karma dari kitab "Karma Vibhanga".
Dari lapisan pertama sampai keempat terdapat patung-patung Dhyani Buddha (masing-masing 92 buah), yaitu:
1. menghadap ke Timur: Aksobya dengan mudra "Bhumisparsa" (menunjuk bumi sebagai saksi).
2. menghadap ke Selatan: Ratnasambhava dengan mudra "Vara" atau "Varada" (memberi anugerah).
3. menghadap ke Barat: Amitabha dengan mudra "Dhyana" (meditasi).
4. menghadap ke Utara: Amogasidhi dengan mudra "Abhaya" (jangan takut).
Pada baris kelima menghadap keempat jurusan terdapat 64 buah patung dari Dhyani Buddha Vairocana dengan mudra "Vitarka" (meyakinkan).
Pada lingkaran bundar yang terdiri dari 3 lapisan terdapat 72 buah patung Vajrasatva dengan Dharmacakra-mudra dalam stupa-stupa yang dindingnya berlubang. Lubang-lubang stupa pada lapisan kesatu dan kedua (masing-masing 32 buah 24 buah) berbentuk "belah ketupat" sebagai lambang "masih belum dalam keseimbangan sempurna"; pada lapisan ketiga lubangnya berbentuk persegi sebagai lambang "mantap dalam keseimbangan".
Jumlah patung yang terdapat di Borobudur ialah 368 + 64 + 72 = 504 buah.
Dinding stupa besar ditengah-tengah tidak tembus dan di dalamnya terdapat rongga yang sekarang kosong, yang mungkin sekali dahulu tempat menyimpan relik Sang Buddha.
Ketiga candi di atas setelah selesai, dikeramatkan oleh Puteri dari Raja Samarottungga, yaitu Rajaputri Pramodawardhani pada tahun 843 (prasasti tahun 840). Dari akhir abad ke-15 selama lebih dari 300 tahun lamanya Borobudur ditelantarkan.
B. Usaha-usaha menyelamatkan candi Borobudur
Pada tahun 1815 atas perintah Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stanford Raffles, opsir zeni Ir. H.C. Cornelius memimpin pembersihan wajah candi yang masih disebut-sebut dalam "Babad Tanah Jawa" seabad sebelumnya. Lebih dari 200 orang penduduk dipaksa kerja rodi selama 45 hari menebang pohon, membabat dan membakar belukar serta mengelupas tanah yang sudah menyelimuti candi yang kakinya sudah terbenam 10 meter ke dalam tanah.
Lalu Borobudur pun terjaga dari tidurnya yang pulas kira-kira 3 abad lamanya. Sayang Raffles tidak dapat meneruskan usahanya karena sudah harus pergi dari Indonesia.
Pada tahun 1835 pekerjaan untuk menyelamatkan candi Borobudur baru dapat dilanjutkan kembali. Seorang seniman Jerman, A. Shaefer, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya mengabadikan Borobudur di atas celluloid. Ada 5.000 foto yang telah dibuatnya, yang kemudian dilanjutkan dengan penggambaran relief-reliefnya di atas kertas oleh F.C. Wilson dan Schonberg Mulder, dari tahun 1849 s/d tahun 1953.
Pada tahun 1873 monografi pertama tentang Borubudur diterbitkan oleh Museum Purbakala Leiden, Negeri Belanda. Pada tahun itu pula seorang ahli potret kenamaan, I. van Kinsbergen diberi tugas untuk memperbaharui potret-potret Borobudur. Karena sangat telitinya kerja I. van Kinsbergen (dia sendiri ikut membersihkan sudut-sudut candi), 200 relief yang selama ini terpendam dalam tanah ikut tersingkap.
Pada tahun 1885 kaki candi yang ditelan bumi itu "ditemukan" oleh J.W. Ijzerman. Ternyata di belakang kaki candi yang nampak masih ada lagi kaki candi lain yang dihiasi pahatan relief. Kaki yang tersembunyi ini diabadikan oleh Cephas selama setahun (1890-1891), yang untuk itu 12.500 meter kubik batu dipindahkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Penemuan ini penting artinya, yang disebut "Kamadhatu" (lingkaran hawa nafsu) yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan mata. Seratus enam puluh panel dalam lingkaran "Hawa Nafsu" itu menggambarkan ajaran Karma (Hukum sebab dan akibat setiap perbuatan baik dan buruk), sebagaimana tertera dalam kitab "Karma-vibhanga".
Pada tahun 1834 Residen Kedu melakukan pemugaran secara tambal-sulam dan memerintahkan pembersihan lebih lanjut agar wajah candi kelihatan lebih cantik. Batu-batu yang berserakan di sekeliling candi disingkirkan ke kaki bukit, sedangkan stupa-stupanya dibenarkan letaknya.
Pada tahun 1844 stupa induknya diperbaiki, namun ia pun melakukan perbuatan yang merusak, yaitu :
1. di atas candi Borobudur diberi bangunan bambu sebagai tempat para pembesar Belanda dan nyonya mereka minum teh dengan santai sambil menikmati panorama senja tatkala sang surya berpamitan dengan seisi bumi.
2. tatkala seorang Raja Siam (Thailand) datang pada pertengahan abad ke 19, Residen Kedu menghadiahkan kepada Beliau delapan gerobak batu-batu candi Borobudur dan lima puluh relief, di samping lima patung Sang Buddha sendiri, dua patung singa penjaga candi, satu pancuran berwujud "Makara" (kepala gajah bertanduk kambing, bertelinga kerbau dengan singa mini di dalam moncongnya), sejumlah kepala "kala" (raksasa dan 'dewa waktu' dalam mitologi Jawa) dari pangkal tangga dan gapura, serta sebuah patung raksasa dari bukit sebelah Barat-Laut candi Borobudur.
Hampir saja pengrusakan elemen-elemen Borobudur itu makin menjadi-jadi, ketika para ahli di negeri Belanda mengusulkan agar relief-reliefnya dipindahkan saja ke Museum Leiden, mengingat kondisi candi yang semakin rusak. Untunglah gagasan itu ditentang oleh kalangan ahli sendiri, sehingga tidak jadi dilaksanakan.
Pada tahun 1900 setelah dokumentasi dan penelitian dianggap memadai, oleh Pemerintah Belanda dibentuk panitia khusus untuk pemugaran Borobudur yang diketuai oleh Dr. J.L.A. Brandes.
Seperti halnya operasi pertama pada zaman Raffles, kembali seorang opzir zeni, Letnan Ir. Th. van Erp memainkan peranan utama sebagai penyelamat candi Borobudur.
Ada tiga hal yang dibebankan kepada Ir. van Erp dalam usaha menyelamatkan Borobudur:
1. menanggulangi bahaya runtuh dengan cara memperkokoh sudut-sudut bangunannya, menegakkan kembali dinding-dinding yang miring pada teras (tingkat) pertama, serta memperbaiki gapura, relung dan stupa, termasuk stupa induk.
2. mengekalkan keadaan yang sudah diperbaiki itu dengan pengawasan yang ketat dan pemeliharaan yang cermat. Untuk itu saluran airnya perlu disempurnakan dengan jalan memperbaiki lantai lorong dan pancuran air.
3. memperlihatkan bangunan candi sejelas-jelasnya, bersih dan utuh.
Seluruh pekerjaan pemugaran yang dimulai pada tahun 1907 baru selesai empat tahun kemudian dengan menelan biaya 100.000 gulden.
Ir. van Erp pun telah membuat satu "warning-system" (petunjuk pengaman), yakni lapisan beton pengaman di antara 2 buah batu pada bagian dinding yang paling miring di sebelah Barat, tangga Utara tingkat pertama. Bilamana sambungan itu patah, maka Borobudur berada dalam keadaan bahaya.
Pada bulan Januari 1926 dapat diketahui adanya kerusakan yang disengaja oleh turis asing yang ingin menyimpan tanda mata dari Borobudur. Peristiwa ini menjadi pendorong bagi penelitian yang lebih intensif terhadap batu-batu dan terutama relief-relief candi. Nyatanya banyak relief yang menampakkan tanda-tanda retak. Tangan jahil? Bukan! Setelah diamati dan dibanding-bandingkan kiri kanan, ternyata bukan karena tangan jahil, melainkan karena suhu yang sangat cepat berganti; dari panas yang menyengat kemudian disusul hujan terus-menerus. Ternyata dari 120 panel relief "Lalita Vistara" yang menceritakan riwayat Sang Buddha sejak direncanakan lahir di sorga Tusita sampai khotbahnya yang kesohor di Benares, ada 40 yang rusak.
Pada tahun 1929 dibentuk panitia baru untuk melakukan pengamatan dan pengamanan. Dari hasil penyelidikan panitia, diketahuilah penyebab kerusakan, yakni: korosi kimiawi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan.
Korosi disebabkan oleh pengaruh iklim yang merusak batu-batu candi yang jelek kwalitasnya. Lapisan oker kuning yang dulunya dimaksudkan meratakan warna relief untuk keperluan pemotretan, ternyata berhasil melindungi batu-batu yang keras. Tetapi terhadap batu-batu yang lunak akibatnya jadi lain, yaitu pengelupasan. Cendawan dan lumut terang menambah korosi pula. Namun, sebab pokok korosi yang paling sadis adalah derasnya air yang merembes ke luar bangunan candi melalui celah-celah dan pori-pori batu-batuan candi itu sendiri.
Adapun kerusakan mekanis terutama disebabkan oleh tangan dan kaki manusia atau penyebab lainnya di luar candi.
Kerusakan lain ialah, karena tekanan bobot batu-batuan candi itu sendiri.
Pada tahun 1965 atas prakarsa Menteri P & K, Ny. Artati M. Sudirdjo S.H., maka untuk mencegah kerusakan yang lebih fatal, telah dilakukan pembongkaran atas dinding-dinding Utara dan Barat yang miring oleh Dr. R. Soekmono.
Pada tahun 1967 Dr. R. Soekmono ketika mengikuti Kongres Orientalis International di Ann Arbor (AS) minta perhatian kongres atas nasib Borobudur. Unesco tertarik pada nasib Borobudur dan berjanji untuk memberi bantuan.
Pada tahun 1968 Pemerintah RI membentuk Panitia Nasional Penyelamat Borobudur dan beberapa ahli luar negeri dihubungi, a.l.:
1. Prof. C. Voute, ahli geologi kenamaan.
2. Dr. G. Hyvert, ahli pengawetan patung dan relief
3. Prof. Bernard Philipe Groslier, arkeolog Prancis kenamaan yang namanya tidak dapat dipisahkan dari penyelamatan candi Angkor di Kamboja.
Pada bulan Juni 1971 Panitia Pemugaran Borobudur dibentuk dengan diketuai oleh Prof. Ir. R. Roosseno didampingi oleh Dr. R. Soekmono. Pada tahun ini pula Dirjen Unesco, Rene Maheu datang ke Indonesia untuk menandatangani bantuan Unesco sebesar US $ 6 juta dari biaya pemugaran yang diperkirakan US $ 7,75 juta, (menurut perkiraan tahun 1975 biaya tersebut telah membubung sampai US $ 16 juta).
Pada tanggal 11 Agustus 1973 Borobudur mulai dipugar dengan mengikut-sertakan ahli-ahli dari Unesco, Lembaga Purbakala, Fak. Sastra UI, Dept. Geologi ITB dan Fak. Teknik & Pertanian UGM.
Menurut perkiraan, pemugaran Borobudur akan memakan waktu 8 tahun.
Keterangan relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama menurut naskah “Lalita Vistara”.
Dapat dilihat di lorong pertama (bagian Rupadhatu) pada dinding sebelah dalam
Dari pintu Timur sampai ke pintu Selatan
1. Sang Bodhisatva di sorga Tusita sedang menerima penghormatan dari para dewa dengan berbagai alat musik.
2. Sang Bodhisatva memberitahukan para dewa tentang keinginannya turun ke dunia menjadi Buddha dan untuk memberi bimbingan kepada mereka yang telah tersesat dan menolong mereka ke Jalan Yang Benar.
3. Seorang Brahmana mengajar para muridnya tentang kebijaksanaan duniawi dan memberitahukan kepada mereka bahwa dua belas tahun kemudian akan turun ke dunia se-Orang Buddha yang akan membebaskan umat manusia dari Samsara (lingkaran tumimbal-lahir).
4. Para Pratyeka Buddha, setelah mendengar tentang akan turunnya Bodhisatva ke dunia terbang ke sorga untuk menyambut dan mengiringinya.
5. Sang Bodhisatva mengajar para dewa tentang Dhamma.
6. Sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia, terlebih dulu Beliau menyerahkan Mahkotanya (Tyara) kepada penggantinya, yaitu Bodhisatva Maitreya.
7. Bodhisatva Maitreya mengajar Dharma kepada para dewa.
8. Raja Suddhodana bersukia cita dengan permaisurinya, Ratu Maya Dewi, di istana Kapilavastu.
9. Para bidadari mengunjungi Ratu Maya Dewi di istana.
10. Para dewa mempersiapkan diri untuk mengiringi Sang Bodhisatva turun ke dunia.
11. Dihormati untuk terakhir kali di sorga Tusita sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia.
12. Di pavilyun Sri Garbha, Sang Bodhisatva duduk bermeditasi dan selanjutnya turun ke dunia diusung oleh para dewa.
13. Ratu Maya Dewi, sewaktu tidur di istana, bermimpi seekor gajah putih memasuki perutnya dan kemudian Ratu menjadi hamil.
14. Sang Ratu tidak usah kuatir karena Dewa Cakra melindunginya.
15. Sang Ratu pergi ke taman Asoka untuk menemui Raja Suddhodana.
16. Raja Suddhodana tiba di taman Asoka dengan menunggang gajah.
17. Raja Suddhodana berjumpa dengan Sang Ratu di serambi. Sang Ratu menceritakan mimpinya dan bertanya tentang arti mimpi tersebut.
18. Karena Raja Suddhodana tidak dapat menerangkan arti mimpi Sang Ratu, maka beliau minta pendapat dari seorang brahmana yang bernama Asita. Asita menerangkan bahwa Ratu akan hamil dan akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Putera ini mempunyai bakat menjadi seorang pemimpin dunia.
19. Raja Suddhodana gembira sekali mendengar ramalan tersebut dan memberikan hadiah yang berlimpah-limpah kepada Asita dan para brahmana lainnya.
20. Para dewa yang mendengar berita yang menggembirakan ini membangun tiga buah istana untuk Ratu Maya Dewi.
21. Para dewa telah membuat Ratu Maya Dewi serempak terlihat di tiga alam.
22. Sebelum bayi dilahirkan, Ratu telah melakukan hal-hal mujizat : beliau dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan orang-orang yang cacat badannya.
23. Raja Suddhodana memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang miskin.
24. Raja Suddhodana memberikan khotbah di hadapan para wanita.
25. Satu hal yang aneh terjadi sewaktu Raja sedang bermeditasi : seekor anak gajah masuk ke istana dan memberi hormat kepada Raja.
26. Persiapan untuk mengunjungi taman Lumbini.
27. Ratu dengan kereta menuju ke taman Lumbini. Setelah tiba, kereta berhenti dan Ratu dengan gembira berjalan-jalan di taman.
28. Di taman Lumbini dengan berdiri berpegangan pada cabang pohon Sal, Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki.
Segera setelah dilahirkan, Sang Bayi dapat berjalan tujuh langkah dan di atas tiap tapak kaki muncul bunga teratai.
29. Setelah Ratu meninggal dunia, Sang Pangeran diasuh oleh bibinya yang bernama Pajapati. Sang Pangeran diberi nama Siddharta.
30. Pangeran Siddharta di pangkuan ibu tirinya.
Dari pintu Selatan sampai ke pintu Barat.
1. Seorang Brahmana bernama Asita mengunjungi Pangeran Siddharta.
2. Dewa-dewa dari alam Suddhavasa mengunjungi Pangeran Siddharta.
3. Para penduduk yang kaya-kaya mempersembahkan hadiah-hadiah kepada Pangeran Siddharta.
4. Pangeran Siddharta pergi ke vihara untuk mendapatkan pendidikan.
5. Setibanya di vihara, gurunya pingsan melihat wajah Sang Pangeran yang demikian cemerlang.
6. Sang Pangeran berhias dengan memakai berbagai macam permata.
7. Para penduduk memberi hormat kepada Sang Pangeran.
8. Pangeran Siddharta dan gurunya di ruang belajar.
9. Pangeran Siddharta mengunjungi desa-desa untuk melihat sendiri penghidupan rakyatnya di desa.
10. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon jambu.
11. Para sesepuh di istana Kapilavastu mendesak Pangeran Siddharta untuk menikah.
12. Sang Pangeran minta para gadis dari Kapilavastu untuk datang ke istana. Pilihannya ternyata jatuh kepada Yasodhara. Untuk menghibur gadis-gadis lain yang kecewa, Sang Pangeran membagi-bagikan hadiah.
13. Menurut kebiasaan pada zaman itu, sebelum upacara perkawinan dilaksanakan, terlebih dulu calon pengantin pria harus membuktikan kemampuannya secara fisik maupun mental. Oleh karena itu Sang Pangeran diharuskan mengambil bagian dalam satu sayembara.
14. Devadatta, saudara sepupu dari Sang Pangeran, juga turut dalam sayembara tersebut. Ia harus berkelahi dengan seekor gajah yang besar. Gajah tersebut dibunuhnya dengan sekali pukul dan sekali tendang.
15. Pada relief hanya terlihat roda kereta dan seorang prajurit.
Pangeran Siddharta dengan duduk di kereta menyeret bangkai gajah itu dengan kaki kiri ke luar kota sejauh delapan yojana (1 yojana = 8 mil).
16. Pangeran Siddharta dicoba kemurniannya dengan digoda wanita-wanita cantik.
17. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menunggang kuda).
18. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menggunakan pedang).
19. Sayembara memanah batang pohon Tala. Hanya Pangeran Siddharta yang lulus dalam pertandingan ini; anak panahnya menembus batang pohon Tala dan menghilang di tanah.
20. Pernikahan dari Pangeran Siddharta dengan Putri Yasodhara diberkahi.
21. Puteri Yasodhara memasuki istana setelah menikah.
22. Di istana, mempelai disambut dengan musik.
23. Pangeran Siddharta mendapat petunjuk dari para dewa untuk meninggalkan istana.
24. Untuk mencegah agar Pangeran Siddharta jangan meninggalkan istana, Raja Suddhodana memerintahkan untuk mendirikan istana-istana untuk Sang Pangeran dengan dilayani oleh wanita-wanita cantik.
25. Pangeran Siddharta sedang dimanjakan oleh wanita-wanita.
26. Pangeran Siddharta melihat seorang tua renta.
27. Pangeran Siddharta melihat orang sakit keras.
28. Pangeran Siddharta melihat orang mati.
29. Pangeran Siddharta melihat seorang pertapa.
30. Pangeran Siddharta mendapat impian buruk.
Dari pintu Barat sampai ke pintu Utara
1. Pangeran Siddharta mohon diri dari ayahnya, Raja Suddhodana.
2. Raja Suddhodana tidak memperkenankan Sang Pangeran pergi bertapa dan memerintahkan kepada wanita-wanita cantik untuk terus menghibur Sang Pangeran.
3. Tengah malam wanita-wanita yang menghibur Pangeran Siddharta telah tertidur. Lalu Pangeran Siddharta yang merasa jemu sekali, membulatkan tekad untuk meninggalkan istana.
4. Pangeran Siddharta memanggil kusirnya yang bernama Channa dan memerintahkan untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka.
5. Pangeran Siddharta melakukan perjalanan jauh untuk mulai bertapa.
6. Sampai di tempat tujuannya, Pangeran Siddharta mengucapkan selamat berpisah kepada para dewa yang mengiringinya.
7. Pangeran Siddharta memotong rambutnya.
8. Pangeran Siddharta menukar pakaiannya dengan jubah seorang pertapa.
9. Para dewa memberi hormat kepada Pangeran Siddharta.
10. Pangeran Siddharta tiba di pertapaan Padmapani.
11. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa bernama Uddaka Ramaputra.
12. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa lain yang bernama Alara Kalama.
13. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat Raja Bimbisara di Rajagaha.
14. Raja Bimbisara berkunjung ke tempat Pangeran Siddharta.
15. Pangeran Siddharta berkunjung ke Gunung Gaya dan bertemu dengan para pertapa dari tempat tersebut.
16. Para pertapa tersebut di atas berkunjung kepada Pangeran Siddharta.
17. Pangeran Siddharta berbincang-bincang dengan para pertapa tentang persoalan “Pañña” (Kebijaksanaan). Karena berselisih pendapat, para pertapa meninggalkan Pangeran Siddharta.
18. lbunda Pangeran Siddharta, yaitu Ratu Maya Dewi almarhumah, turun ke dunia dari sorga untuk membujuk anaknya mengakhiri penyiksaan diri dan makan minum seperti biasa lagi agar dapat memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.
19. Para dewa mendesak Pangeran Siddharta untuk kembali makan dan minum.
20. Pangeran Siddharta mengajar para dewa.
21. Seorang wanita bernama Sujata mempersembahkan bubur kepada Pangeran Siddharta.
22. Pangeran Siddharta mempersiapkan diri untuk mandi.
23. Pangeran Siddharta menukar pakaian.
24. Para wanita dari Uruvela mempersembahkan makanan kepada Pangeran Siddharta.
25. Pangeran Siddharta pergi ke tepi sungai Nairanjara dengan membawa jubahnya yang sudah bekas pakai.
26. Pangeran Siddharta membuang jubahnya ke sungai.
27. Jubah tersebut diterima oleh Raja Naga Mucilinda.
28. Pangeran Siddharta menerima makanan dari Mucilinda.
29. Pangeran Siddharta memberi berkah kepada Mucilinda.
30. Pangeran Siddharta minta diberi rumput yang empuk untuk duduk.
Dari pintu Utara sampai pintu Timur
1. Pangeran Siddharta dalam perjalanan ke Buddha Gaya.
2. Pohon Bodhi diberi penghiasan.
3. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon Bodhi.
4. Mara, iblis yang jahat, datang mengganggu Pangeran Siddharta dan mengancam untuk membunuhnya.
5. Mara mengirim anak-anaknya berupa wanita-wanita yang cantik sekali untuk menggoda Pangeran Siddharta.
6. Mara mencoba membujuk Pangeran Siddharta dengan membisikkan godaan di telinganya.
7. Godaan-godaan oleh Mara dengan memakai kekuatan gaib dan wanita-wanita cantik. Sang Pangeran duduk dengan sikap Bhumisparsa-Mudra.
(simbol dari tekad yang bulat).
8. Para dewa membasuh Pangeran Siddharta dengan air suci.
9. Pangeran Siddharta berhasil mencapai Penerangan Agung; Mara tidak berhasil menggagalkan usaha Pangeran Siddharta. Sekarang Pangeran Siddharta menjadi Buddha (Beliau memakai sikap Abaya-Mudra = Jangan Takut).
10. Buddha Gautama mendapat tempat duduk di taman Rusa.
11. Raja Naga Mucilinda menjumpai Buddha Gautama.
12. Para pertapa dari Bodhi-manda minta diberi berkah oleh Buddha Gautama.
13. Buddha Gautama mengajar cara melakukan Samadhi (Beliau memakai Dhyana-Mudra = Sedang Bermeditasi).
14. Para raja mempersembahkan makanan kepada Buddha Gautama dan mereka diberi pelajaran tentang “Bermurah hati”. (Beliau memakai Vara-Mudra = Memberi Anugerah).
15. Buddha Gautama sedang memberi pelajaran Dhamma.
16. Buddha Gautama berkunjung ke kota Savatthi untuk mengajar Dhamma.
17. Buddha Gautama berkunjung ke Uruvela untuk mengajar Dhamma.
18. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Uddaka Ramaputra.
19. Buddha Gautama berkunjung ke Raja Bimbisara di Rajagaha.
20. Buddha Gautama berkunjung ke para pertapa.
21. Buddha Gautama bertemu dengan para dewa.
22. Buddha Gautama mengunjungi sebuah kota dan dijamu makan.
23. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Alara Kalama.
24. Buddha Gautama berkunjung ke kota Maghada dan disambut dengan upacara yang meriah.
25. Dalam perjalanan ke Benares, Buddha Gautama menyeberangi sungai Gangga dengan terbang di atas air.
(Tukang perahu penyeberang tidak mau menyeberangkan Buddha Gautama tanpa pembayaran lebih dulu. Sebelum tukang perahu mengetahui apa yang terjadi, Buddha Gautama sudah ada di seberang sungai).
26. Buddha Gautama sedang dijamu.
27. Di sebuah bukit bernama Gaya, Buddha Gautama berjumpa kembali dengan para pertapa yang dulu telah meninggalkannya. Sekarang mereka menjadi murid Buddha Gautama.
28. Buddha Gautama diberi hormat oleh para pertapa lain.
29. Buddha Gautama diperciki air suci oleh para dewa.
30. Buddha Gautama memberi khotbah di taman Rusa, dekat Benares.
We know nothing or we know all
thing, jika dilihat sekilas pernyataan tersebut agak aneh, namun setelah
melalui proses pemikiran yang panjang, pernyataan tersebut merupakan kondisi
yang tanpa disadari kita alami.
Sebagaimana kita berada di bumi ini
dalam keadaan we know nothing atau belum tahu apa-apa. Allah SWT, Tuhan Yang
Maha Esa telah memberikan kepada kita sesuatu yang sangat berharga, dan
pemberian itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya yang diciptakan
Allah SWT, yakni apa yang disebut dengan “akal”, dengan akal tersebut kita di
suruh untuk berpikir.
Mencari tahu apa-apa yang ada di
atas permukaan bumi ini, menganalisis sesuatu, serta menemukan akar
permasalahannya, selanjutnya ditemukan solusi dan alternatif pemecahannya,
kemudian diberikan kesimpulan dan beberapa rekomendasi sebagai suatu proses
dari rasa keinginan tahuan terhadap suatu persoalan. Koentjaraningrat seorang
Antropolog mengatakan bahwa suatu ciri khas manusia adalah bahwa ia selalu
ingin tahu; dan setelah itu ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka
segera kepuasannya disusul lagi dengan kecendrungan untuk ingin lebih tahu
lagi.
Begitulah seterusnya, hingga tidak
sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang
dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Sifat keingintahuan tersebut
kalau direnung-renung dengan akal sehat, merupakan kodrati manusia,
keingintahuan” terhadap sesuatu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukannya. Di
dalam kehidupan sehari-hari manusia secara langsung sifat tersebut teraplikasi
di dalam dirinya.
Alam yang terben-tang luas ini
merupakan “rahasia” yang perlu dipikirkan dan dikaji oleh kita dan banyak
masalah-masalah yang perlu dikaji, baik masalah pendidikan, sosial budaya,
sosial ekonomi, dekadensi moral, dan sebagainya. Dari rasa keingintahuan itulah
akan menimbulkan budaya meneliti bagi seseorang, apalagi seorang pendidik,
dalam hal ini guru.
Guru yang baik adalah guru yang mau
belajar, mau membaca dan mau mendengar sehingga memiliki kemampuan dan wawasan
berpikir ilmiah. Ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan hitungan detik dan
menit senantiasa berubah, guru harus mampu mengakselerasikan perubahan
tersebut, kalau tidak maka akan terasa kerdilnya kita.
Budaya meneliti harus selalu dikembangkan dan
diaplikasikan, dengan budaya tersebut, maka kita tahu dan paham dengan berbagai
persoalan dan menemukan solusinya, demikian pula akan mampu memberikan suatu
kesimpulan dari suatu permasalahan. Mana kita tahu, mengapa nilai belajar anak
didik kita merosot, selama ini kita hanya menyalahkan anak didik kita yang
malas belajar, kurikulum yang terlalu padat, atau alat evaluasilah yang kurang
shahih, atau gurulah yang tidak mampu mengajar, hal-hal tersebut bisa saja
dijadikan indikator. Akan tetapi ada hal-hal mustahak yang tidak kita ketahui,
bagaimana untuk mengetahui persoalan yang mustahak itu, harus melalui suatu
penelitian.
Dengan penelitian itulah kita mengetahui dan
memahami akar permasalahan (grassroot), dan dengan demikian akan menjadi suatu
rekomendasi yang sangat berharga bagi perkembangan dan kemajuan dunia
pendidikan.
Selanjutnya bagi pelaksana
pendidikan maupun para pengambil keputusan kiranya dapat menjadi bahan
pertimbangan untuk terus memacu dan meningkatkan kinerjanya ke depan. Karena
pada kesempatan ini guru berkecimpung dalam dunia pendidikan, maka masalah yang
perlu kita teliti tentu menyangkut masalah pendidikan.
Selain dari pada itu yang perlu diketahui oleh
guru bahwa budaya meneliti itu berguna bagi guru ? Budaya meneliti bagi guru
dimulai dari suatu masalah, ketidak sesuaian antara desain dan desollen, antara
apa yang ada dengan apa yang akan diharapkan. Akibat ketidaksesuaian
tersebutlah menimbulkan permasalahan, dan dari permasalahan tersebut dilakukan
kajian, dan dari kajian itu kita menemukan jalan keluarnya.
Sebenarnya banyak hal yang dapat
menjadi bahan kajian dari guru, jika guru ingin mengembangkan budaya meneliti.
Karena guru secara langsung terlibat di dalam proses belajar mengajar, setiap
saat guru bertungkuslumus dengan berbagai permasalahan, apakah menyangkut
dengan hasil belajar anak, disiplin belajar anak, proses pembelajaran guru,
hubungan guru dengan siswa, unjuk rasa para siswa, tata tertib sekolah, tata
krama siswa, keterampilan mengajar guru, organisasi siswa, peran orang tua
terhadap anak, dan masih banyak persoalan yang dapat dikembang dalam suatu
penelitian.
Demikian pula persoalan yang ditemukan di luar
lingkungan sekolah, seperti kenakalan remaja, tertib berlalu lintas, maraknya
narkoba, kebut-kebutan dijalan, prostitusi, judi dan minuman keras, Wanita Tuna
Susila, siskamling, tawuran antara pelajaran, dan masih banyak persoalan yang
dapat diangkut oleh guru, kalau benar-benar ingin mengembangkan budaya
meneliti.
Terasa dan sangat dirasakan sekali, sebenarnya
budaya meneliti tidak terlepas dari kebiasaan seseorang dalam tulis menulis
ilmiah. Guru yang selalu melakukan kegiatan membuat karya ilmiah, maka ini
merupakan salah satu pengembangan budaya meneliti.
Namun, budaya ini memang kurang diminati para
guru, dan guru kurang terbiasa melakukan hal ini, karena mungkin kesibukan
mengajar sehingga waktu untuk digunakan menulis dan meneliti kurang tersedia,
atau bisa saja ketidaktahuannya bagaimana menulis suatu karya ilmiah, dan
mungkin saja menulis karya ilmiah hanya tugas para dosen di perguruan tinggi
saja, dan banyak faktor lainnya yang menyebabkan keengganan guru dalam
mengembangan budaya menulis atau meneliti.
Kalau benar-benar direnungkan,
tidak ada kata “tidak bisa” di atas dunia ini, tidak ada kata sukar jika
dicoba. Belum dicoba sudah mengatakan tidak bisa dan sukar dilakukan, mana mungkin
suatu keinginan akan tercapai.
Oleh sebab itu,memang diperlukan
motivasi dan proaktif seseorang untuk dapat mengembangkan budaya meneliti.
Perlu diketahui kiat-kiat suatu penelitian, perlu banyak membaca, mengamati,
dan mengevaluasi, nah inilah yang menjadi modal bagi guru jika ingin
mengembangkan budaya meneliti. Bagaimana kita mau perang, jika strategi perang
dan senjata yang akan digunakan tidak kita ketahui, demikian pula untuk
mengembangkan budaya ini, kita harus memiliki seperti apa yang disebutkan di
atas.
Ke depan, budaya meneliti akan
menjadi suatu kewajiban bagi seorang guru, apalagi berkaitan dengan kenaikan
pangkat. Naif rasanya apabila anak didik kita rangsang untuk meneliti karya
ilmiah dalam rangka Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), guru pembimbing sendiri
tidak pernah melakukan suatu penulisan atau penelitian.
Bagaimana kita bisa memberikan
nilai suatu karya ilmiah, kita sendiri belum pernah mencobanya, oleh sebab itu
layak kiranya kita para guru sedini mungkin mencoba untuk meluangkan waktu
untuk mengembangkan budaya menulis dan meneliti ini, cobalah dengan metode
“trial and eror”, biarlah pada awalnya penilaian orang belum baik, karena kita
selalu bertanya dan belajar terus, Pengalaman menunjukan, bahwa pada tahap
awal, apapun yang kita lakukan dan sangat-sangat dirasakan pasti banyak
kelemahan dan kekurangan.
Kekurangan itu sangat dimaklumi,
namanya orang baru belajar, masih untung mau melakukan dari pada tidak sama
sekali. Akan tetapi kita berharap jangan sampai patah arang, hilang motivasi,
dan jangan malu bertanya. maka tidak mustahil suatu waktu karya kita akan
bermutu, dan akan tetap mengembangkan budaya meneliti ini sampai kapan pun.
Mencari Tahu Mengapa Kita Ada! Hasil terbaru
dari ekperimen akselerator partikel mengaju bahwa materi agaknya akan unggul
pada akhirnya. Penelitian telah menunjukkan pertanda kecil tapi cukup
signifikan bahwa perbedaan 1 persen antara jumlah materi dan antimateri yang
dihasilkan, yang dapat menjadi petunjuk bagaimana keberadaan kita (manusia) yang
mendominasi bisa muncul.
Teori saat ini, yang dikenal
sebagai Model Standar dari partikel fisika, telah diprediksi beberapa
pelanggaran simetri materi-antimateri, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan
bagaimana alam semesta bisa muncul dengan sebagian besar terdiri dari materi
dengan sisa jejak samar antimateri.
Tapi eksperimen terbaru memuncul
rasio ketidakseimbangan materi terhadap antimateri yang melampaui
ketidakseimbangan yang diprediksi oleh Model Standar. Secara khusus, fisikawan
menemukan perbedaan 1 persen antara pasang muons dan antimuons yang muncul dari
peluruhan partikel yang dikenal sebagai mesons B.
Hasil eksperimen ini telah
diumumkan pada Selasa, berasal dari analisis data selama delapan tahun dari
Tevatron Collider di Departement of Energy’s Fermi National Accelerator
laboratory di Batavia, Illinois. “Banyak dari kita merasa merinding ketika kita
melihat hasilnya,” kata Stefan Soldner-Rembold, seorang ahli fisika partikel di
University of Manchester di Britania Raya.
“Kami tahu kami melihat sesuatu di luar apa
yang telah kita lihat sebelumnya dan melampaui apa yang bisa menjelaskan
teori-teori saat ini.” Tevatron Collider dan sepupunya yang lebih besar, Large
Hadron Collider di CERN di Swiss, dapat menghancurkan partikel materi dan antimateri
bersama-sama untuk menciptakan energi, serta partikel baru dan antipartikel.
Jika tidak, antipartikel hanya timbul karena peristiwa ekstrim seperti reaksi
nuklir atau sinar kosmis dari bintang-bintang sekarat.
Pengukuran dibuat oleh kolaborasi
DZero, sebuah kelompok internasional beranggotakan 500 orang, masih dibatasi
oleh jumlah tumbukan yang tercatat sapai sejauh ini. Itu berarti fisikawan akan
terus mengumpulkan data dan analisis mereka. Para peneliti datang dengan temuan
terakhir mereka dengan melakukan analisis data buta, sehingga mereka tidak
melakukan bias terhadap analisis mereka berdasarkan apa yang mereka diamati.
Mereka telah mengirimkan hasilnya
ke jurnal Physical Review D. WE KNOW NOTHING IS BETTER WE KNOW ALLTHING?
Mengapa demikian? Bukankah mengatahui segala hal lebih baik di banding tidak
mengetahui hal apa pun? Mungkin kita pernah mendengar pepatah yang berbunyi
“manusia tidak pernah puas”, saya menangkap pepatah ini dalam dua pengertian
yakni negatif dan positif.
Negatif karena terkadang dalam
kehidupan ekonomi manusia tidak pernah puas akan apa yang telah dimilikinya dan
terus mencoba melebihi apa yang sudah jadi batas kemampuannya, sehingga
sehingga hidupnya bersifat konsumtif bukan produktif.
Positif karena manusia tak pernah
puas akan ilmu, pengetahuan, informasi, dsb yang dimilikinya sehingga manusia
akan terus dan terus belajar dalam hidupnya. Inilah maksud dari “We Know
Nothing” sebagai manusia terus belajar dan menggali ilmu adalah hak tiap
individu. Dalam menggali ilmu (pendidikan) biasanya kita langsung berfikir
tentang sekolah padahal menggali ilmu itu sendiri dibagi menjadi 2 macam,
formal dan non formal.
Pendidikan formal: merupakan
pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur
pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan
dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal: paling banyak
terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman
Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu,
yang terdapat di semua gereja.Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya
kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.
Program – program PNF yaitu Keaksaraan
fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain
sebagainya. Dalam dunia yang terus berkembang, tentu kita dituntut untuk terus
belajar dan menggali informasi.
Banyak cara yang bisa kita lakukan
dalam menggali informasi baik itu membaca, bergaul, bermain, dsb kita bisa
mendapatkan informasi bahkan belajar suatu hal. Kita harus membuka wawasan kita
ke lingkungan sekitar, kita harus membuka mata dan telinga akan apa yang ada di
sekitar kita karena apa yang kita dapatkan di sekolah maupun perkuliahan tidak
akan bermakna jika kita tidak mengaplikasikannya di masyarakat.
Di era globalisasi ini setiap
individu memang dituntut lebih kreatif, kekreatifitasan ini tentu bisa
didapatkan dari masyarakat. Orang yang menutup mata-telinganya akan apa yang
ada dan terjadi di masyarakat tidak akan pernah berkembang.
Menutup mata-telinga maksudnya adalah tidak
mau mencari akan informasi dari lingkungan sekitar, baik itu dalam dunia nyata
maupun dunia maya. Belajar tentu harus memiliki motivasi tertentu, mengapa
demikian? Ini dikarenakan belajar haruslah berdasarkan niat dari diri individu
itu sendiri.
Dengan adanya niat yang kuat akan
muncul suatu motivasi yang membuat belajar menjadi semakin mengasyikan. Belajar
yang monoton akan menimbulkan suatu kejenuhan. Inilah yang sedang marak terjadi
di pendidikan Indonesia. Begitu banyak tuntutan kepada murid baik itu tugas
maupun materi pada kurikulum yang padat dan berubah-ubah.
Saat saya di SMA, guru saya pun
ikut kerepotan akan kurikulum pendidikan yang padat dan kerap kali berubah.
Menurut saya situasi seperti inilah yang membuat siswa-siswi stress, terbebani
dalam belajar, dsb.
Hal tersebut bisa kita lihat dari
perilaku siswa-siswi di sekolah seperti: bolos sekolah, nongkrong setelah
pulang sekolah (dengan anggapan untuk refreshing), dsb. Mungkin ada benarnya
kalau belajar itu tidak boleh enaknya saja, namun kita seharusnya mencontoh
negara maju yang memiliki system pendidikan lebih efektif.
Kita ambil contoh dari Jepang,
berikut adalah salah satu sekolah menengah atas ternama di negeri matahari
tersebut** : Kita telah membahas apa maksud dari “WE KNOW NOTHING” , belajar
dalah kata kata kuncinya. Lalu bagaimana dengan “WE KNOW ALLTHING” mengapa
mengetahui segala hal tidak jauh lebih baik daripada mempelajari berbagai hal?
Mengetahui berbagai hal memang didambakan setiap orang, karena ini terkesan
menggambarkan orang yang cerdas, pandai, berwawasan luas, dsb.
Namun tahukan kalian akan dampak
yang negatif dari “WE KNOW ALLTHING” ini? Kadang orang yang sudah mengetahui
segala hal akan menjadi sombong dan malas, karena dia merasa dirinya telah
mencapai titik puncak dari suatu pengetahuan.
Ini juga bisa berdampak ke hubungan
sosial, orang di sekitarnya tidak akan memiliki interesting dalam berbicara
dengan dirinya. Ini hanya sebagai contoh mengapa “WE KNOW ALLTHING” tidak lebih
baik dari “WE KNOW NOTHING” karena menurut saya ini hanyalah perbedaan paham
dan cara kita memandang bagaimana kita menghadapi ilmu pengetahuan dan informasi
di sekitar kita.
Mudah saja, orang yang berfikiran
“WE KNOW NOTHING” akan terus berkembang dibandingkan dengan orang yang
berfikiran “WE KNOW ALLTHING”. Tom Krause mengatakan bahwa “Jika kau hanya
melakukan apa yang kau tahu bisa kau kerjakan, kau tidak akan bisa berbuat
lebih.”
Tom Krause (1934), motivator, guru,
dan pelatih”. Kalimat emas ini jelas menggambarkan jika kita hanya melakukan
apa yang kita bisa dan ketahui itu hanyalah akan menjadi sia-sia, karena kita
tidak akan mendapatkan hal yang berguna untuk masa depan kita. Mencoba hal baru
adalah hal yang dianjurkan dalam quotes ini, karena dengan bereksperimen akan
hal yang belom pernah kita lakukan akan memberikan pengetahuan baru yang
tentunya akan berguna untuk masa depan kita.
Kita tahu pengalaman adalah guru
yang paling baik, maka dari itu dengan kita mencoba berbagai hal kita akan
mendapatkan pengalaman-pengalaman yang membuat kita menjadi semakin matang.
Masa muda adalah masa yang
berapi-api, begitulah yang dikatakan oleh raja dangdut Indonesia bang haji
Rhoma Irama. Menurut saya hal ini sangat positif dalam pengertian semangat yang
tinggi dalam meraih cita-cita juga berbagai hal tentang hidup.
Hal tersebut juga bisa digunakan di
berbagai macam hal, sebagai contoh berikut ini adalah tips untuk menjalankan
bisnis dari sebuah pengalaman****: Orang yang belajar dari pengalaman hidupnya
adalah orang yang tergolong “WE KNOW NOTHING” karena dia selalu belajar akan
apa yang pernah dialaminya maupun akan apa yang ada di depannya.
Dengan terus belajar dan berdoa tentu bisa
meraih sukses. Tanpa perlu meniru orang lain kita pun bisa meraihnya dengan
cara kita sendiri. Socrates “Bagi saya, all I know is that I know nothing ,
karena ketika aku tidak tahu apa keadilan, aku tidak akan tahu apakah itu semacam
kebajikan atau tidak, atau apakah orang yang memiliki itu bahagia atau tidak
bahagia”. Diogenes Laertius Socrates seperti dikutip dalam Kehidupan Eminent
Filsuf • Aku tahu apa-apa kecuali kenyataan ketidaktahuan saya. • Seringkali
ketika melihat massa hal untuk dijual, ia akan berkata pada dirinya sendiri,
‘Berapa banyak hal Aku tidak membutuhkan! ” • Memiliki paling sedikit ingin,
saya terdekat kepada para dewa. • Hanya ada satu yang baik, pengetahuan, dan
satu jahat, kebodohan.
Varian: Satu-satunya kebaikan adalah
pengetahuan dan kejahatan satu-satunya adalah kebodohan. Plato terkenal akun
sidang dan kematian Socrates. • Saya melakukan apa-apa tetapi pergi tentang
membujuk kalian semua, tua dan muda sama, tidak mengambil pemikiran bagi
orang-orang atau properti Anda, tetapi dan terutama untuk peduli terhadap
peningkatan terbesar jiwa.
Saya memberitahu Anda bahwa
kebajikan tidak diberikan oleh uang, tetapi bahwa dari kebajikan datang uang
dan setiap yang baik lainnya manusia, publik maupun pribadi.
Hal ini mengajar saya, dan jika ini
adalah doktrin §yang Kehidupan yang tidak teruji bukan kehidupan
yang berharga. Sebuah kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan yang
berharga. Kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan bagi manusia. Hidup
tanpa penyelidikan bukan kehidupan yang berharga bagi pria. •
Jam keberangkatan telah tiba, dan kami
menempuh jalan kami – aku mati dan kamu untuk hidup. Mana yang lebih baik,
hanya Tuhan yang tahu. o Apakah Kita Tahu Tidak? Saya pikir jawaban simplist
adalah kita tahu NOTHING tentang gravitasi.
there is only theory on what
gravity actually is… hanya ada teori tentang apa sebenarnya gravitasi … all we
know are its effects. semua kita tahu dampaknya. for example the mayans knew
with amlost perfect accuracy about the suns behavior to such a degree that they
could predict the earths presession.
misalnya Maya tahu dengan akurasi
yang sempurna atau hampir tentang perilaku matahari sedemikian rupa sehingga
mereka bisa memprediksi PreSession bumi. Buut they had absolutly no knowledge
of anything ABOUT the sun, like nuclear fusion and photons.
Absolutly Buut mereka tidak tahu
apa-apa TENTANG matahari, seperti fusi nuklir dan foton. That is pretty much
where we are at the moment. Itu cukup banyak di mana kita berada pada saat ini.
We understand gravity’s behavior with an extraordinary degree of accuracy,
however we know absolutly nothing about gravity. K
ami memahami perilaku gravitasi
dengan tingkat akurasi yang luar biasa, namun kita tahu absolutly apa-apa
tentang gravitasi Ini menyesatkan. Jika Anda melihat hati-hati di segala
sesuatu yang Anda pikir Anda tahu, Anda akan melihat bahwa semua yang Anda tahu
adalah sebenarnya hanya kemampuan Anda untuk menjelaskan sesuatu.
Pengetahuan dari serangkaian sifat
dan perilaku dari sesuatu adalah apa yang merupakan kemampuan Anda untuk
mengatakan bahwa Anda tahu apa itu. Sekarang tidak berarti bahwa Anda tahu
SEMUANYA tentang itu, tapi jelas tidak memungkinkan Anda untuk mengatakan Anda
tahu NOTHING tentang hal itu.
Fisika hanya itu – kemampuan kita
untuk menggambarkan perilaku dari suatu sistem. Tidak ada bukti yang lebih
besar untuk menunjukkan bahwa kita tahu sedikit tentang sesuatu ketika kita
dapat membuat prediksi kuantitatif dari apa sesuatu yang akan dilakukan. Lihatlah
elektronik modern Anda. Saya bahkan akan mengatakan bahwa kita tahu lebih
banyak tentang gravitasi dari yang Anda tahu lebih banyak tentang perilaku
kerabat terdekat.
Dari artikel tersebut saya
menyimpulkan bahwa kita semua merupakan sekumpulan manusia yang tidak lebih
tahu dari Dzat Yang Maha Tahu. Maka pantaslah we know nothing berada di tubuh
kita. Jika we know nothing sudah tertanam di dalam sanubari kita maka diri kita
akan merasa hina, karena pada intinya kita adalah makhluk yang tidak tahu
apa-apa.
Yang jadi pertanyaan sekarang
adalah berapa banyak manusia yang sombong akan kepintarannya, padahal pada
intinya ia tidak tahu apa-apa. Bangga akan tahtanya padahal ilmu yang ia punya
belum seberapa. Mengapa itu semua bisa terjadi? Karena kebanyakan dari mereka
tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.
Sumber : www.physicsforums.com/showthread.php?t=249229
www.wikipedia.org www.gogle.com