Powered By Blogger

Kamis, 11 November 2010

TEORI DARWIN TENTANG EVOLUSI


AL QUR’AN DALAM MENYOROTI KEJADIAN MANUSIA
A.      TEORI DARWIN TENTANG EVOLUSI
Dalam perkembangannya teori evolusi Darwin mendapat tantangan (terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan – Universal Creation), dukungan dan pengkayaan-pengkayaan. Jadi, teori sendiri juga berevolusi sehingga teori evolusi biologis yang sekarang kita kenal dengan label “Neo Darwinian” dan “Modern Sintesis”, bukanlah murni seperti yang diusulkan oleh Darwin. Berbagai istilah di bawah ini merupakan hasil pengkayaan yang mencerminkan pergulatan pemikiran dan argumentasi ilmiah seputar teori evolusi: berdasarkan kecepatan evolusi (evolusi quasi dan evolusi quantum); berdasarkan polanya (evolusi gradual, evolusi punctual, dan evolusi saltasi) dan berdasarkan skala produknya (evolusi makro dan evolusi mikro).

Darwin sempat mengguncangkan dunia ilmu pengetahuan. Banyak pihak ternyata salah dalam menafsirkan penemuannya.
Darwin—dalam teori evolusinya—menyatakan bahwa semua mahluk hidup yang ada di Bumi berasal dari nenek moyang yang sama dan mengalami modifikasi. Dengan kata lain, ia menyebutkan bahwa spesies bukanlah sesuatu yang kekal, melainkan berevolusi dari berbagai spesies yang telah ada.
Sebenarnya, Teori Evolusi dicetuskan Darwin berdasarkan observasinya dalam beberapa ekspedisi, salah satunya adalah perjalanan menggunakan kapal H.M.S Beagle.
Perkembangan Teori Evolusi
Banyak hal dan pemikiran ahli lain yang mempengaruhi perkembangan teori Darwin, antara lain:
  • Ekspedisi ke lautan Galapagos ditemukan bahwa perbedaan bentuk paruh burung Finch disebabkan perbedaan jenis makanannya.
  • Geolog Charles Lyell (1830) menyatakan bahwa batu-batuan di bumi selalu mengalami perubahan. Menurut Darwin, hal-hal tersebut kemungkinan mempengaruhi makhluk hidupnya. Pikiran ini juga didasarkan pada penyelidikannya pada fosil.
  • Pendapat ekonom Malthus yang menyatakan adanya kecendrungan kenaikan jumlah penduduk lebih cepat dari kenaikan produksi pangan. Hal ini menimbulkan terjadinya suatu persaingan untuk kelangsungan hidup. Oleh Darwin hal ini dibandingkan dengan seleksi yang dilakukan oleh para peternak untuk memperoleh bibit unggul.
  • Pendapat beberapa ahli seperti Geoffroy (1829), WC Wells (1813), Grant (1826), Freke (1851), dan Rafinisque (1836).


Penganut Teori evolusi menyarankan bahawa daya penggerak dalam perkembangan evolusi ialah proses mutasi.Mutasi adalah satu perubahan yang terjadi dengan mendadak dan ada yang boleh diwariskan kepada keturunanya tetapi keturunan itu pada kebiasaannya tidak boleh menyesuaikan diri dengan keaadaan sekitar.Umpamanya kebanyakkan variasi-variasi tumbuhan pertanian dan haiwan ternakan adalah akibat mutasi,tetapi bentuk seperti itu selalunya dihapuskan oleh seleksi tabii.Ini adalah oleh kerana mutasi pada lazimnya tidak dapat menyesuaikan diri kepada keadaan sekitarnya.Ianya tidak membawa perubahan yang beransur iaitu sedikit demi sedikit bagi sesuatu anggota tetapi berhenti dan terbatas sebagaimana sifat itu dilihat pada mulanya.Ini adalah bertentangan dengan kepercayaan Darwin bahawa evolusi itu adalah sutu proses yang beransur membawa perubahan kepada sesuatu sifat yang berguna sedikit demi sedikit dalam jangka masa yang panjang hingga terjelma spesis yang baru.
Dengan berkembangnya ilmu genetika, teori itu diperkaya sehingga muncul Neo Darwinian. Menurut Lemer (1958), definisi seleksi alam adalah segala proses yang menyebabkan pembedaan non random dalam reproduksi terhadap genotype; atau allele gen dan kompleks gen dari generasi ke generasi berikutnya.
Anggota populasi yang membawa genotype yang lebih adaptif (superior) berpeluang lebih besar untuk bertahan daripada keturunan yang inferior. Jumlah individu keturunan yang superior akan bertambah sementara jumlah individu inferior akan berkurang dari satu generasi ke generasi lainnya. Seleksi alampun juga masih bekerja, sekalipun jika semua keturunan dapat bertahan hidup dalam beberapa generasi. Contohnya adalah pada jenis fauna yang memiliki beberapa generasi dalam satu tahun. Jika makanan dan sumberdaya yang lain tidak terbatas selama suatu musim, populasi akan bertambah seperti deret ukur dengan tidak ada kematian di antara keturunannya. Hal itu tidak berarti seleksi tidak terjadi, karena anggota populasi dengan genotype yang berbeda memproduksi keturunan dalam jumlah yang berbeda atau berkembang mencapai matang seksual pada kecepatan yang berbeda. Musim yang lain kemungkinan mengurangi jumlah individu secara drastic tanpa pilih-pilih. Jadi pertumbuhan eksponensial dan seleksi kemungkinan akan dilanjutkan lagi pada tahun berikutnya. Pebedaan fekunditas, sesungguhnya juga merupakan agent penyeleksi yang kuat karena menentukan perbedaan jumlah individu yang dapat bertahan hidup atau dan jumlah individu yang akan mati, yang ditunjukkan dalam angka kematian (Dobzhansky, 1970).
Darwin telah menerim, namun dengan sedikit keraguan, slogan Herbert Spencer “survival of the fittest in the struggle for life” sebagai altenatif untuk menerangkan proses seleksi alam, namun saat ini slogan itu nampaknya dipandang tidak sepenuhnya tepat. Tidak hanya individu atau jenis yang terkuat tetapi mereka yang lumayan pas dengan lingkungan dapat bertahan hidup dan bereproduksi. Dalam kondisi seleksi yang lunak atau halus semua individu atau jenis pembawa genotype yang bermacam-macam dapat bertahan hidup ketika populasi berkurang. Individu yang fit (individu yang sesuai dengan lingkungan dapat bertoleransi dengan lingkungan) tidak harus mereka yang paling kuat, paling agresif atau paling bertenaga, melainkan mereka yang mampu bereproduksi menghasilkan keturunan dengan jumlah terbanyak yang viable dan fertile.
Seleksi alam tidak menyebabkan timbulnya material baru (bahan genetic yang baru yang di masa mendatang akan datang diseleksi lagi),melainkan justru menyebabkan hilangnya suatu varian genetic atau berkurang frekuensi gen tertentu. Seleksi alam bekerja efektif hanya bila populasi berisi dua atau lebih genotype, yang mana dari varian itu ada yang akan tetap bertahan atau ada yang tereliminasi pada kecepatan yang berbeda-beda. Pada seleksi buatan, breeder akan memilih varian genetic (individu dengan genotype) tertentu untuk dijadikan induk untuk generasi yang akan datang. permasalahan yang timbul adalah dari mana sumber materi dasar atau bahan mentah genetic penyebab keanekaragaman genetic pada varian-varian yang akan obyek seleksi oleh alam. Permasalahan itu terpecahkan setelah T.H Morgan dan kawan-kawan meneliti mutasi pada lalat buah Drosophilia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses mutasi menyuplai bahan mentah genetic yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman genetic dimana nantinya seleksi alam bekerja
Islam Dan Teori Darwin
Secara ilmiah teori evolusi Darwin utama belum dapat dikatakan runtuh, karena sebelum ditemukan bukti-bukti empiris yang bertentangan dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan dalam teori itu masih dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak kalangan masih meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agama.
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embriyo berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim)
Saat ini Indonesia kebanjiran buku-buku Islam yang diproduksi Dr. Harun Yahya yang “menyerang” teori Darwin. Dari segi teologis ada kekuatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari kehidupan, namun Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan “Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas. Kita menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat di balik semua gerakan evolusi itu…”. Tentang prinsip survival of the littest, Bagir justru membenarkannya dan kita harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alqur’an. Dingin dari dari dua sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis.
Sekarang para sarjana tudak cukup menyelidiki fosil2-fosilnya saja.
Tetapi sperma dan ova di dalamnya banyak hal seperti unsure- unsurnya. Dengan begitu para sarjana tersebuk tidak mungkin lagsung percaya dengan satu kali percobaan
Sampai disinilah focus terakhir kekalahan teori Darwin bila zaman sekarang masih ada yang mempercayai teori evolusi manusia.   

Sumber :
·  Sober, E. 1993. Phylosophy of Biology. Westview Press. San Fransisco.
·  Yahya, H. 1987. Keruntuhan Teori Evolusi. Penerbit Dzikra. Bandung.



Nama  : Achmad Riva’i
Npm   : 10110088
Kelas  : 1 KA21
URL     : http://rastafara-achmadrivai.blogspot.com/

Senin, 01 November 2010

Asal Mula Borobudur

Asal Mula Borobudur A. Keterangan Umum Nama aslinya "Dasabhumi Sambhara Budara" yang berarti "Bukit Sepuluh Tingkatan Kerohanian", yang disingkat menjadi Sambhara Budara, lalu Bharabudara dan dengan logat Jawa menjadi Borobudur. Borobudur menghadap ke arah Timur dan didirikan di atas bukit pada tahun 826, prasastinya dikeluarkan pada tahun 824. Pembuatannya dipercayakan kepada seorang arsitek dari India bernama Gunadharma. Dahulu kala Borobudur seluruhnya dicat putih dan berada di tengah-tengah sebuah danau. Borobudur berukuran 123 X 123 m.; tinggi aslinya 42 m. (ujungnya telah patah ± 8 m.) dan terdiri atas empat bagian: a. alas bawah b. 5 (lima) lapis lingkaran persegi yang berlekuk sehingga berbentuk segi 20. c. 3 (tiga) lapis lingkaran bundar d. 1 (satu) stupa besar di tengah-tengah. Kesemuanya ini melambangkan "Dasa Bhumi" atau 10 (sepuluh) Kesempurnaan (Paramita) yang harus dimiliki oleh seorang Bodhisatva untuk dapat menjadi Buddha. Lapisan-lapisan yang berbentuk segi 20 diberi serambi, sehingga merupakan lorong-lorong. Dinding serambi-serambi ini, baik di bagian luar maupun di bagian dalam diberi relief-relief (gambar-gambar pahatan) yang mengkisahkan cerita-cerita tertentu. Pada dinding dalam dari lorong pertama terdapat relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama berdasarkan naskah "Lalita Vistara". Pada dinding luarnya terdapat cerita tentang kelahiran Pangeran Siddharta sebagai Bodhisatva menurut kitab "Jatakumala". Pada lorong yang lain terdapat cerita tentang para Bodhisatva lain dari kitab "Gandavyuha"; sedang di kaki candi yang tertutup terdapat lukisan-lukisan yang berhubungan dengan hukum Karma dari kitab "Karma Vibhanga". Dari lapisan pertama sampai keempat terdapat patung-patung Dhyani Buddha (masing-masing 92 buah), yaitu: 1. menghadap ke Timur: Aksobya dengan mudra "Bhumisparsa" (menunjuk bumi sebagai saksi). 2. menghadap ke Selatan: Ratnasambhava dengan mudra "Vara" atau "Varada" (memberi anugerah). 3. menghadap ke Barat: Amitabha dengan mudra "Dhyana" (meditasi). 4. menghadap ke Utara: Amogasidhi dengan mudra "Abhaya" (jangan takut). Pada baris kelima menghadap keempat jurusan terdapat 64 buah patung dari Dhyani Buddha Vairocana dengan mudra "Vitarka" (meyakinkan). Pada lingkaran bundar yang terdiri dari 3 lapisan terdapat 72 buah patung Vajrasatva dengan Dharmacakra-mudra dalam stupa-stupa yang dindingnya berlubang. Lubang-lubang stupa pada lapisan kesatu dan kedua (masing-masing 32 buah 24 buah) berbentuk "belah ketupat" sebagai lambang "masih belum dalam keseimbangan sempurna"; pada lapisan ketiga lubangnya berbentuk persegi sebagai lambang "mantap dalam keseimbangan". Jumlah patung yang terdapat di Borobudur ialah 368 + 64 + 72 = 504 buah. Dinding stupa besar ditengah-tengah tidak tembus dan di dalamnya terdapat rongga yang sekarang kosong, yang mungkin sekali dahulu tempat menyimpan relik Sang Buddha. Ketiga candi di atas setelah selesai, dikeramatkan oleh Puteri dari Raja Samarottungga, yaitu Rajaputri Pramodawardhani pada tahun 843 (prasasti tahun 840). Dari akhir abad ke-15 selama lebih dari 300 tahun lamanya Borobudur ditelantarkan. B. Usaha-usaha menyelamatkan candi Borobudur Pada tahun 1815 atas perintah Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stanford Raffles, opsir zeni Ir. H.C. Cornelius memimpin pembersihan wajah candi yang masih disebut-sebut dalam "Babad Tanah Jawa" seabad sebelumnya. Lebih dari 200 orang penduduk dipaksa kerja rodi selama 45 hari menebang pohon, membabat dan membakar belukar serta mengelupas tanah yang sudah menyelimuti candi yang kakinya sudah terbenam 10 meter ke dalam tanah. Lalu Borobudur pun terjaga dari tidurnya yang pulas kira-kira 3 abad lamanya. Sayang Raffles tidak dapat meneruskan usahanya karena sudah harus pergi dari Indonesia. Pada tahun 1835 pekerjaan untuk menyelamatkan candi Borobudur baru dapat dilanjutkan kembali. Seorang seniman Jerman, A. Shaefer, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya mengabadikan Borobudur di atas celluloid. Ada 5.000 foto yang telah dibuatnya, yang kemudian dilanjutkan dengan penggambaran relief-reliefnya di atas kertas oleh F.C. Wilson dan Schonberg Mulder, dari tahun 1849 s/d tahun 1953. Pada tahun 1873 monografi pertama tentang Borubudur diterbitkan oleh Museum Purbakala Leiden, Negeri Belanda. Pada tahun itu pula seorang ahli potret kenamaan, I. van Kinsbergen diberi tugas untuk memperbaharui potret-potret Borobudur. Karena sangat telitinya kerja I. van Kinsbergen (dia sendiri ikut membersihkan sudut-sudut candi), 200 relief yang selama ini terpendam dalam tanah ikut tersingkap. Pada tahun 1885 kaki candi yang ditelan bumi itu "ditemukan" oleh J.W. Ijzerman. Ternyata di belakang kaki candi yang nampak masih ada lagi kaki candi lain yang dihiasi pahatan relief. Kaki yang tersembunyi ini diabadikan oleh Cephas selama setahun (1890-1891), yang untuk itu 12.500 meter kubik batu dipindahkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Penemuan ini penting artinya, yang disebut "Kamadhatu" (lingkaran hawa nafsu) yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan mata. Seratus enam puluh panel dalam lingkaran "Hawa Nafsu" itu menggambarkan ajaran Karma (Hukum sebab dan akibat setiap perbuatan baik dan buruk), sebagaimana tertera dalam kitab "Karma-vibhanga". Pada tahun 1834 Residen Kedu melakukan pemugaran secara tambal-sulam dan memerintahkan pembersihan lebih lanjut agar wajah candi kelihatan lebih cantik. Batu-batu yang berserakan di sekeliling candi disingkirkan ke kaki bukit, sedangkan stupa-stupanya dibenarkan letaknya. Pada tahun 1844 stupa induknya diperbaiki, namun ia pun melakukan perbuatan yang merusak, yaitu : 1. di atas candi Borobudur diberi bangunan bambu sebagai tempat para pembesar Belanda dan nyonya mereka minum teh dengan santai sambil menikmati panorama senja tatkala sang surya berpamitan dengan seisi bumi. 2. tatkala seorang Raja Siam (Thailand) datang pada pertengahan abad ke 19, Residen Kedu menghadiahkan kepada Beliau delapan gerobak batu-batu candi Borobudur dan lima puluh relief, di samping lima patung Sang Buddha sendiri, dua patung singa penjaga candi, satu pancuran berwujud "Makara" (kepala gajah bertanduk kambing, bertelinga kerbau dengan singa mini di dalam moncongnya), sejumlah kepala "kala" (raksasa dan 'dewa waktu' dalam mitologi Jawa) dari pangkal tangga dan gapura, serta sebuah patung raksasa dari bukit sebelah Barat-Laut candi Borobudur. Hampir saja pengrusakan elemen-elemen Borobudur itu makin menjadi-jadi, ketika para ahli di negeri Belanda mengusulkan agar relief-reliefnya dipindahkan saja ke Museum Leiden, mengingat kondisi candi yang semakin rusak. Untunglah gagasan itu ditentang oleh kalangan ahli sendiri, sehingga tidak jadi dilaksanakan. Pada tahun 1900 setelah dokumentasi dan penelitian dianggap memadai, oleh Pemerintah Belanda dibentuk panitia khusus untuk pemugaran Borobudur yang diketuai oleh Dr. J.L.A. Brandes. Seperti halnya operasi pertama pada zaman Raffles, kembali seorang opzir zeni, Letnan Ir. Th. van Erp memainkan peranan utama sebagai penyelamat candi Borobudur. Ada tiga hal yang dibebankan kepada Ir. van Erp dalam usaha menyelamatkan Borobudur: 1. menanggulangi bahaya runtuh dengan cara memperkokoh sudut-sudut bangunannya, menegakkan kembali dinding-dinding yang miring pada teras (tingkat) pertama, serta memperbaiki gapura, relung dan stupa, termasuk stupa induk. 2. mengekalkan keadaan yang sudah diperbaiki itu dengan pengawasan yang ketat dan pemeliharaan yang cermat. Untuk itu saluran airnya perlu disempurnakan dengan jalan memperbaiki lantai lorong dan pancuran air. 3. memperlihatkan bangunan candi sejelas-jelasnya, bersih dan utuh. Seluruh pekerjaan pemugaran yang dimulai pada tahun 1907 baru selesai empat tahun kemudian dengan menelan biaya 100.000 gulden. Ir. van Erp pun telah membuat satu "warning-system" (petunjuk pengaman), yakni lapisan beton pengaman di antara 2 buah batu pada bagian dinding yang paling miring di sebelah Barat, tangga Utara tingkat pertama. Bilamana sambungan itu patah, maka Borobudur berada dalam keadaan bahaya. Pada bulan Januari 1926 dapat diketahui adanya kerusakan yang disengaja oleh turis asing yang ingin menyimpan tanda mata dari Borobudur. Peristiwa ini menjadi pendorong bagi penelitian yang lebih intensif terhadap batu-batu dan terutama relief-relief candi. Nyatanya banyak relief yang menampakkan tanda-tanda retak. Tangan jahil? Bukan! Setelah diamati dan dibanding-bandingkan kiri kanan, ternyata bukan karena tangan jahil, melainkan karena suhu yang sangat cepat berganti; dari panas yang menyengat kemudian disusul hujan terus-menerus. Ternyata dari 120 panel relief "Lalita Vistara" yang menceritakan riwayat Sang Buddha sejak direncanakan lahir di sorga Tusita sampai khotbahnya yang kesohor di Benares, ada 40 yang rusak. Pada tahun 1929 dibentuk panitia baru untuk melakukan pengamatan dan pengamanan. Dari hasil penyelidikan panitia, diketahuilah penyebab kerusakan, yakni: korosi kimiawi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan. Korosi disebabkan oleh pengaruh iklim yang merusak batu-batu candi yang jelek kwalitasnya. Lapisan oker kuning yang dulunya dimaksudkan meratakan warna relief untuk keperluan pemotretan, ternyata berhasil melindungi batu-batu yang keras. Tetapi terhadap batu-batu yang lunak akibatnya jadi lain, yaitu pengelupasan. Cendawan dan lumut terang menambah korosi pula. Namun, sebab pokok korosi yang paling sadis adalah derasnya air yang merembes ke luar bangunan candi melalui celah-celah dan pori-pori batu-batuan candi itu sendiri. Adapun kerusakan mekanis terutama disebabkan oleh tangan dan kaki manusia atau penyebab lainnya di luar candi. Kerusakan lain ialah, karena tekanan bobot batu-batuan candi itu sendiri. Pada tahun 1965 atas prakarsa Menteri P & K, Ny. Artati M. Sudirdjo S.H., maka untuk mencegah kerusakan yang lebih fatal, telah dilakukan pembongkaran atas dinding-dinding Utara dan Barat yang miring oleh Dr. R. Soekmono. Pada tahun 1967 Dr. R. Soekmono ketika mengikuti Kongres Orientalis International di Ann Arbor (AS) minta perhatian kongres atas nasib Borobudur. Unesco tertarik pada nasib Borobudur dan berjanji untuk memberi bantuan. Pada tahun 1968 Pemerintah RI membentuk Panitia Nasional Penyelamat Borobudur dan beberapa ahli luar negeri dihubungi, a.l.: 1. Prof. C. Voute, ahli geologi kenamaan. 2. Dr. G. Hyvert, ahli pengawetan patung dan relief 3. Prof. Bernard Philipe Groslier, arkeolog Prancis kenamaan yang namanya tidak dapat dipisahkan dari penyelamatan candi Angkor di Kamboja. Pada bulan Juni 1971 Panitia Pemugaran Borobudur dibentuk dengan diketuai oleh Prof. Ir. R. Roosseno didampingi oleh Dr. R. Soekmono. Pada tahun ini pula Dirjen Unesco, Rene Maheu datang ke Indonesia untuk menandatangani bantuan Unesco sebesar US $ 6 juta dari biaya pemugaran yang diperkirakan US $ 7,75 juta, (menurut perkiraan tahun 1975 biaya tersebut telah membubung sampai US $ 16 juta). Pada tanggal 11 Agustus 1973 Borobudur mulai dipugar dengan mengikut-sertakan ahli-ahli dari Unesco, Lembaga Purbakala, Fak. Sastra UI, Dept. Geologi ITB dan Fak. Teknik & Pertanian UGM. Menurut perkiraan, pemugaran Borobudur akan memakan waktu 8 tahun. Keterangan relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama menurut naskah “Lalita Vistara”. Dapat dilihat di lorong pertama (bagian Rupadhatu) pada dinding sebelah dalam Dari pintu Timur sampai ke pintu Selatan 1. Sang Bodhisatva di sorga Tusita sedang menerima penghormatan dari para dewa dengan berbagai alat musik. 2. Sang Bodhisatva memberitahukan para dewa tentang keinginannya turun ke dunia menjadi Buddha dan untuk memberi bimbingan kepada mereka yang telah tersesat dan menolong mereka ke Jalan Yang Benar. 3. Seorang Brahmana mengajar para muridnya tentang kebijaksanaan duniawi dan memberitahukan kepada mereka bahwa dua belas tahun kemudian akan turun ke dunia se-Orang Buddha yang akan membebaskan umat manusia dari Samsara (lingkaran tumimbal-lahir). 4. Para Pratyeka Buddha, setelah mendengar tentang akan turunnya Bodhisatva ke dunia terbang ke sorga untuk menyambut dan mengiringinya. 5. Sang Bodhisatva mengajar para dewa tentang Dhamma. 6. Sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia, terlebih dulu Beliau menyerahkan Mahkotanya (Tyara) kepada penggantinya, yaitu Bodhisatva Maitreya. 7. Bodhisatva Maitreya mengajar Dharma kepada para dewa. 8. Raja Suddhodana bersukia cita dengan permaisurinya, Ratu Maya Dewi, di istana Kapilavastu. 9. Para bidadari mengunjungi Ratu Maya Dewi di istana. 10. Para dewa mempersiapkan diri untuk mengiringi Sang Bodhisatva turun ke dunia. 11. Dihormati untuk terakhir kali di sorga Tusita sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia. 12. Di pavilyun Sri Garbha, Sang Bodhisatva duduk bermeditasi dan selanjutnya turun ke dunia diusung oleh para dewa. 13. Ratu Maya Dewi, sewaktu tidur di istana, bermimpi seekor gajah putih memasuki perutnya dan kemudian Ratu menjadi hamil. 14. Sang Ratu tidak usah kuatir karena Dewa Cakra melindunginya. 15. Sang Ratu pergi ke taman Asoka untuk menemui Raja Suddhodana. 16. Raja Suddhodana tiba di taman Asoka dengan menunggang gajah. 17. Raja Suddhodana berjumpa dengan Sang Ratu di serambi. Sang Ratu menceritakan mimpinya dan bertanya tentang arti mimpi tersebut. 18. Karena Raja Suddhodana tidak dapat menerangkan arti mimpi Sang Ratu, maka beliau minta pendapat dari seorang brahmana yang bernama Asita. Asita menerangkan bahwa Ratu akan hamil dan akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Putera ini mempunyai bakat menjadi seorang pemimpin dunia. 19. Raja Suddhodana gembira sekali mendengar ramalan tersebut dan memberikan hadiah yang berlimpah-limpah kepada Asita dan para brahmana lainnya. 20. Para dewa yang mendengar berita yang menggembirakan ini membangun tiga buah istana untuk Ratu Maya Dewi. 21. Para dewa telah membuat Ratu Maya Dewi serempak terlihat di tiga alam. 22. Sebelum bayi dilahirkan, Ratu telah melakukan hal-hal mujizat : beliau dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan orang-orang yang cacat badannya. 23. Raja Suddhodana memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang miskin. 24. Raja Suddhodana memberikan khotbah di hadapan para wanita. 25. Satu hal yang aneh terjadi sewaktu Raja sedang bermeditasi : seekor anak gajah masuk ke istana dan memberi hormat kepada Raja. 26. Persiapan untuk mengunjungi taman Lumbini. 27. Ratu dengan kereta menuju ke taman Lumbini. Setelah tiba, kereta berhenti dan Ratu dengan gembira berjalan-jalan di taman. 28. Di taman Lumbini dengan berdiri berpegangan pada cabang pohon Sal, Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki. Segera setelah dilahirkan, Sang Bayi dapat berjalan tujuh langkah dan di atas tiap tapak kaki muncul bunga teratai. 29. Setelah Ratu meninggal dunia, Sang Pangeran diasuh oleh bibinya yang bernama Pajapati. Sang Pangeran diberi nama Siddharta. 30. Pangeran Siddharta di pangkuan ibu tirinya. Dari pintu Selatan sampai ke pintu Barat. 1. Seorang Brahmana bernama Asita mengunjungi Pangeran Siddharta. 2. Dewa-dewa dari alam Suddhavasa mengunjungi Pangeran Siddharta. 3. Para penduduk yang kaya-kaya mempersembahkan hadiah-hadiah kepada Pangeran Siddharta. 4. Pangeran Siddharta pergi ke vihara untuk mendapatkan pendidikan. 5. Setibanya di vihara, gurunya pingsan melihat wajah Sang Pangeran yang demikian cemerlang. 6. Sang Pangeran berhias dengan memakai berbagai macam permata. 7. Para penduduk memberi hormat kepada Sang Pangeran. 8. Pangeran Siddharta dan gurunya di ruang belajar. 9. Pangeran Siddharta mengunjungi desa-desa untuk melihat sendiri penghidupan rakyatnya di desa. 10. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon jambu. 11. Para sesepuh di istana Kapilavastu mendesak Pangeran Siddharta untuk menikah. 12. Sang Pangeran minta para gadis dari Kapilavastu untuk datang ke istana. Pilihannya ternyata jatuh kepada Yasodhara. Untuk menghibur gadis-gadis lain yang kecewa, Sang Pangeran membagi-bagikan hadiah. 13. Menurut kebiasaan pada zaman itu, sebelum upacara perkawinan dilaksanakan, terlebih dulu calon pengantin pria harus membuktikan kemampuannya secara fisik maupun mental. Oleh karena itu Sang Pangeran diharuskan mengambil bagian dalam satu sayembara. 14. Devadatta, saudara sepupu dari Sang Pangeran, juga turut dalam sayembara tersebut. Ia harus berkelahi dengan seekor gajah yang besar. Gajah tersebut dibunuhnya dengan sekali pukul dan sekali tendang. 15. Pada relief hanya terlihat roda kereta dan seorang prajurit. Pangeran Siddharta dengan duduk di kereta menyeret bangkai gajah itu dengan kaki kiri ke luar kota sejauh delapan yojana (1 yojana = 8 mil). 16. Pangeran Siddharta dicoba kemurniannya dengan digoda wanita-wanita cantik. 17. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menunggang kuda). 18. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menggunakan pedang). 19. Sayembara memanah batang pohon Tala. Hanya Pangeran Siddharta yang lulus dalam pertandingan ini; anak panahnya menembus batang pohon Tala dan menghilang di tanah. 20. Pernikahan dari Pangeran Siddharta dengan Putri Yasodhara diberkahi. 21. Puteri Yasodhara memasuki istana setelah menikah. 22. Di istana, mempelai disambut dengan musik. 23. Pangeran Siddharta mendapat petunjuk dari para dewa untuk meninggalkan istana. 24. Untuk mencegah agar Pangeran Siddharta jangan meninggalkan istana, Raja Suddhodana memerintahkan untuk mendirikan istana-istana untuk Sang Pangeran dengan dilayani oleh wanita-wanita cantik. 25. Pangeran Siddharta sedang dimanjakan oleh wanita-wanita. 26. Pangeran Siddharta melihat seorang tua renta. 27. Pangeran Siddharta melihat orang sakit keras. 28. Pangeran Siddharta melihat orang mati. 29. Pangeran Siddharta melihat seorang pertapa. 30. Pangeran Siddharta mendapat impian buruk. Dari pintu Barat sampai ke pintu Utara 1. Pangeran Siddharta mohon diri dari ayahnya, Raja Suddhodana. 2. Raja Suddhodana tidak memperkenankan Sang Pangeran pergi bertapa dan memerintahkan kepada wanita-wanita cantik untuk terus menghibur Sang Pangeran. 3. Tengah malam wanita-wanita yang menghibur Pangeran Siddharta telah tertidur. Lalu Pangeran Siddharta yang merasa jemu sekali, membulatkan tekad untuk meninggalkan istana. 4. Pangeran Siddharta memanggil kusirnya yang bernama Channa dan memerintahkan untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka. 5. Pangeran Siddharta melakukan perjalanan jauh untuk mulai bertapa. 6. Sampai di tempat tujuannya, Pangeran Siddharta mengucapkan selamat berpisah kepada para dewa yang mengiringinya. 7. Pangeran Siddharta memotong rambutnya. 8. Pangeran Siddharta menukar pakaiannya dengan jubah seorang pertapa. 9. Para dewa memberi hormat kepada Pangeran Siddharta. 10. Pangeran Siddharta tiba di pertapaan Padmapani. 11. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa bernama Uddaka Ramaputra. 12. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa lain yang bernama Alara Kalama. 13. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat Raja Bimbisara di Rajagaha. 14. Raja Bimbisara berkunjung ke tempat Pangeran Siddharta. 15. Pangeran Siddharta berkunjung ke Gunung Gaya dan bertemu dengan para pertapa dari tempat tersebut. 16. Para pertapa tersebut di atas berkunjung kepada Pangeran Siddharta. 17. Pangeran Siddharta berbincang-bincang dengan para pertapa tentang persoalan “Pañña” (Kebijaksanaan). Karena berselisih pendapat, para pertapa meninggalkan Pangeran Siddharta. 18. lbunda Pangeran Siddharta, yaitu Ratu Maya Dewi almarhumah, turun ke dunia dari sorga untuk membujuk anaknya mengakhiri penyiksaan diri dan makan minum seperti biasa lagi agar dapat memulihkan kembali kekuatan tubuhnya. 19. Para dewa mendesak Pangeran Siddharta untuk kembali makan dan minum. 20. Pangeran Siddharta mengajar para dewa. 21. Seorang wanita bernama Sujata mempersembahkan bubur kepada Pangeran Siddharta. 22. Pangeran Siddharta mempersiapkan diri untuk mandi. 23. Pangeran Siddharta menukar pakaian. 24. Para wanita dari Uruvela mempersembahkan makanan kepada Pangeran Siddharta. 25. Pangeran Siddharta pergi ke tepi sungai Nairanjara dengan membawa jubahnya yang sudah bekas pakai. 26. Pangeran Siddharta membuang jubahnya ke sungai. 27. Jubah tersebut diterima oleh Raja Naga Mucilinda. 28. Pangeran Siddharta menerima makanan dari Mucilinda. 29. Pangeran Siddharta memberi berkah kepada Mucilinda. 30. Pangeran Siddharta minta diberi rumput yang empuk untuk duduk. Dari pintu Utara sampai pintu Timur 1. Pangeran Siddharta dalam perjalanan ke Buddha Gaya. 2. Pohon Bodhi diberi penghiasan. 3. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon Bodhi. 4. Mara, iblis yang jahat, datang mengganggu Pangeran Siddharta dan mengancam untuk membunuhnya. 5. Mara mengirim anak-anaknya berupa wanita-wanita yang cantik sekali untuk menggoda Pangeran Siddharta. 6. Mara mencoba membujuk Pangeran Siddharta dengan membisikkan godaan di telinganya. 7. Godaan-godaan oleh Mara dengan memakai kekuatan gaib dan wanita-wanita cantik. Sang Pangeran duduk dengan sikap Bhumisparsa-Mudra. (simbol dari tekad yang bulat). 8. Para dewa membasuh Pangeran Siddharta dengan air suci. 9. Pangeran Siddharta berhasil mencapai Penerangan Agung; Mara tidak berhasil menggagalkan usaha Pangeran Siddharta. Sekarang Pangeran Siddharta menjadi Buddha (Beliau memakai sikap Abaya-Mudra = Jangan Takut). 10. Buddha Gautama mendapat tempat duduk di taman Rusa. 11. Raja Naga Mucilinda menjumpai Buddha Gautama. 12. Para pertapa dari Bodhi-manda minta diberi berkah oleh Buddha Gautama. 13. Buddha Gautama mengajar cara melakukan Samadhi (Beliau memakai Dhyana-Mudra = Sedang Bermeditasi). 14. Para raja mempersembahkan makanan kepada Buddha Gautama dan mereka diberi pelajaran tentang “Bermurah hati”. (Beliau memakai Vara-Mudra = Memberi Anugerah). 15. Buddha Gautama sedang memberi pelajaran Dhamma. 16. Buddha Gautama berkunjung ke kota Savatthi untuk mengajar Dhamma. 17. Buddha Gautama berkunjung ke Uruvela untuk mengajar Dhamma. 18. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Uddaka Ramaputra. 19. Buddha Gautama berkunjung ke Raja Bimbisara di Rajagaha. 20. Buddha Gautama berkunjung ke para pertapa. 21. Buddha Gautama bertemu dengan para dewa. 22. Buddha Gautama mengunjungi sebuah kota dan dijamu makan. 23. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Alara Kalama. 24. Buddha Gautama berkunjung ke kota Maghada dan disambut dengan upacara yang meriah. 25. Dalam perjalanan ke Benares, Buddha Gautama menyeberangi sungai Gangga dengan terbang di atas air. (Tukang perahu penyeberang tidak mau menyeberangkan Buddha Gautama tanpa pembayaran lebih dulu. Sebelum tukang perahu mengetahui apa yang terjadi, Buddha Gautama sudah ada di seberang sungai). 26. Buddha Gautama sedang dijamu. 27. Di sebuah bukit bernama Gaya, Buddha Gautama berjumpa kembali dengan para pertapa yang dulu telah meninggalkannya. Sekarang mereka menjadi murid Buddha Gautama. 28. Buddha Gautama diberi hormat oleh para pertapa lain. 29. Buddha Gautama diperciki air suci oleh para dewa. 30. Buddha Gautama memberi khotbah di taman Rusa, dekat Benares.

WE KNOW NOTHING OR WE KNOW ALL THINGS



We know nothing or we know all thing, jika dilihat sekilas pernyataan tersebut agak aneh, namun setelah melalui proses pemikiran yang panjang, pernyataan tersebut merupakan kondisi yang tanpa disadari kita alami.
Sebagaimana kita berada di bumi ini dalam keadaan we know nothing atau belum tahu apa-apa. Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan kepada kita sesuatu yang sangat berharga, dan pemberian itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya yang diciptakan Allah SWT, yakni apa yang disebut dengan “akal”, dengan akal tersebut kita di suruh untuk berpikir.
Mencari tahu apa-apa yang ada di atas permukaan bumi ini, menganalisis sesuatu, serta menemukan akar permasalahannya, selanjutnya ditemukan solusi dan alternatif pemecahannya, kemudian diberikan kesimpulan dan beberapa rekomendasi sebagai suatu proses dari rasa keinginan tahuan terhadap suatu persoalan. Koentjaraningrat seorang Antropolog mengatakan bahwa suatu ciri khas manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu; dan setelah itu ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecendrungan untuk ingin lebih tahu lagi.
Begitulah seterusnya, hingga tidak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Sifat keingintahuan tersebut kalau direnung-renung dengan akal sehat, merupakan kodrati manusia, keingintahuan” terhadap sesuatu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukannya. Di dalam kehidupan sehari-hari manusia secara langsung sifat tersebut teraplikasi di dalam dirinya.
Alam yang terben-tang luas ini merupakan “rahasia” yang perlu dipikirkan dan dikaji oleh kita dan banyak masalah-masalah yang perlu dikaji, baik masalah pendidikan, sosial budaya, sosial ekonomi, dekadensi moral, dan sebagainya. Dari rasa keingintahuan itulah akan menimbulkan budaya meneliti bagi seseorang, apalagi seorang pendidik, dalam hal ini guru.
Guru yang baik adalah guru yang mau belajar, mau membaca dan mau mendengar sehingga memiliki kemampuan dan wawasan berpikir ilmiah. Ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan hitungan detik dan menit senantiasa berubah, guru harus mampu mengakselerasikan perubahan tersebut, kalau tidak maka akan terasa kerdilnya kita.
 Budaya meneliti harus selalu dikembangkan dan diaplikasikan, dengan budaya tersebut, maka kita tahu dan paham dengan berbagai persoalan dan menemukan solusinya, demikian pula akan mampu memberikan suatu kesimpulan dari suatu permasalahan. Mana kita tahu, mengapa nilai belajar anak didik kita merosot, selama ini kita hanya menyalahkan anak didik kita yang malas belajar, kurikulum yang terlalu padat, atau alat evaluasilah yang kurang shahih, atau gurulah yang tidak mampu mengajar, hal-hal tersebut bisa saja dijadikan indikator. Akan tetapi ada hal-hal mustahak yang tidak kita ketahui, bagaimana untuk mengetahui persoalan yang mustahak itu, harus melalui suatu penelitian.
 Dengan penelitian itulah kita mengetahui dan memahami akar permasalahan (grassroot), dan dengan demikian akan menjadi suatu rekomendasi yang sangat berharga bagi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan.
Selanjutnya bagi pelaksana pendidikan maupun para pengambil keputusan kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk terus memacu dan meningkatkan kinerjanya ke depan. Karena pada kesempatan ini guru berkecimpung dalam dunia pendidikan, maka masalah yang perlu kita teliti tentu menyangkut masalah pendidikan.
 Selain dari pada itu yang perlu diketahui oleh guru bahwa budaya meneliti itu berguna bagi guru ? Budaya meneliti bagi guru dimulai dari suatu masalah, ketidak sesuaian antara desain dan desollen, antara apa yang ada dengan apa yang akan diharapkan. Akibat ketidaksesuaian tersebutlah menimbulkan permasalahan, dan dari permasalahan tersebut dilakukan kajian, dan dari kajian itu kita menemukan jalan keluarnya.
Sebenarnya banyak hal yang dapat menjadi bahan kajian dari guru, jika guru ingin mengembangkan budaya meneliti. Karena guru secara langsung terlibat di dalam proses belajar mengajar, setiap saat guru bertungkuslumus dengan berbagai permasalahan, apakah menyangkut dengan hasil belajar anak, disiplin belajar anak, proses pembelajaran guru, hubungan guru dengan siswa, unjuk rasa para siswa, tata tertib sekolah, tata krama siswa, keterampilan mengajar guru, organisasi siswa, peran orang tua terhadap anak, dan masih banyak persoalan yang dapat dikembang dalam suatu penelitian.
 Demikian pula persoalan yang ditemukan di luar lingkungan sekolah, seperti kenakalan remaja, tertib berlalu lintas, maraknya narkoba, kebut-kebutan dijalan, prostitusi, judi dan minuman keras, Wanita Tuna Susila, siskamling, tawuran antara pelajaran, dan masih banyak persoalan yang dapat diangkut oleh guru, kalau benar-benar ingin mengembangkan budaya meneliti.
 Terasa dan sangat dirasakan sekali, sebenarnya budaya meneliti tidak terlepas dari kebiasaan seseorang dalam tulis menulis ilmiah. Guru yang selalu melakukan kegiatan membuat karya ilmiah, maka ini merupakan salah satu pengembangan budaya meneliti.
 Namun, budaya ini memang kurang diminati para guru, dan guru kurang terbiasa melakukan hal ini, karena mungkin kesibukan mengajar sehingga waktu untuk digunakan menulis dan meneliti kurang tersedia, atau bisa saja ketidaktahuannya bagaimana menulis suatu karya ilmiah, dan mungkin saja menulis karya ilmiah hanya tugas para dosen di perguruan tinggi saja, dan banyak faktor lainnya yang menyebabkan keengganan guru dalam mengembangan budaya menulis atau meneliti.
Kalau benar-benar direnungkan, tidak ada kata “tidak bisa” di atas dunia ini, tidak ada kata sukar jika dicoba. Belum dicoba sudah mengatakan tidak bisa dan sukar dilakukan, mana mungkin suatu keinginan akan tercapai.
Oleh sebab itu,memang diperlukan motivasi dan proaktif seseorang untuk dapat mengembangkan budaya meneliti. Perlu diketahui kiat-kiat suatu penelitian, perlu banyak membaca, mengamati, dan mengevaluasi, nah inilah yang menjadi modal bagi guru jika ingin mengembangkan budaya meneliti. Bagaimana kita mau perang, jika strategi perang dan senjata yang akan digunakan tidak kita ketahui, demikian pula untuk mengembangkan budaya ini, kita harus memiliki seperti apa yang disebutkan di atas.
Ke depan, budaya meneliti akan menjadi suatu kewajiban bagi seorang guru, apalagi berkaitan dengan kenaikan pangkat. Naif rasanya apabila anak didik kita rangsang untuk meneliti karya ilmiah dalam rangka Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), guru pembimbing sendiri tidak pernah melakukan suatu penulisan atau penelitian.
Bagaimana kita bisa memberikan nilai suatu karya ilmiah, kita sendiri belum pernah mencobanya, oleh sebab itu layak kiranya kita para guru sedini mungkin mencoba untuk meluangkan waktu untuk mengembangkan budaya menulis dan meneliti ini, cobalah dengan metode “trial and eror”, biarlah pada awalnya penilaian orang belum baik, karena kita selalu bertanya dan belajar terus, Pengalaman menunjukan, bahwa pada tahap awal, apapun yang kita lakukan dan sangat-sangat dirasakan pasti banyak kelemahan dan kekurangan.
Kekurangan itu sangat dimaklumi, namanya orang baru belajar, masih untung mau melakukan dari pada tidak sama sekali. Akan tetapi kita berharap jangan sampai patah arang, hilang motivasi, dan jangan malu bertanya. maka tidak mustahil suatu waktu karya kita akan bermutu, dan akan tetap mengembangkan budaya meneliti ini sampai kapan pun.
 Mencari Tahu Mengapa Kita Ada! Hasil terbaru dari ekperimen akselerator partikel mengaju bahwa materi agaknya akan unggul pada akhirnya. Penelitian telah menunjukkan pertanda kecil tapi cukup signifikan bahwa perbedaan 1 persen antara jumlah materi dan antimateri yang dihasilkan, yang dapat menjadi petunjuk bagaimana keberadaan kita (manusia) yang mendominasi bisa muncul.
Teori saat ini, yang dikenal sebagai Model Standar dari partikel fisika, telah diprediksi beberapa pelanggaran simetri materi-antimateri, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana alam semesta bisa muncul dengan sebagian besar terdiri dari materi dengan sisa jejak samar antimateri.
Tapi eksperimen terbaru memuncul rasio ketidakseimbangan materi terhadap antimateri yang melampaui ketidakseimbangan yang diprediksi oleh Model Standar. Secara khusus, fisikawan menemukan perbedaan 1 persen antara pasang muons dan antimuons yang muncul dari peluruhan partikel yang dikenal sebagai mesons B.
Hasil eksperimen ini telah diumumkan pada Selasa, berasal dari analisis data selama delapan tahun dari Tevatron Collider di Departement of Energy’s Fermi National Accelerator laboratory di Batavia, Illinois. “Banyak dari kita merasa merinding ketika kita melihat hasilnya,” kata Stefan Soldner-Rembold, seorang ahli fisika partikel di University of Manchester di Britania Raya.
 “Kami tahu kami melihat sesuatu di luar apa yang telah kita lihat sebelumnya dan melampaui apa yang bisa menjelaskan teori-teori saat ini.” Tevatron Collider dan sepupunya yang lebih besar, Large Hadron Collider di CERN di Swiss, dapat menghancurkan partikel materi dan antimateri bersama-sama untuk menciptakan energi, serta partikel baru dan antipartikel. Jika tidak, antipartikel hanya timbul karena peristiwa ekstrim seperti reaksi nuklir atau sinar kosmis dari bintang-bintang sekarat.
Pengukuran dibuat oleh kolaborasi DZero, sebuah kelompok internasional beranggotakan 500 orang, masih dibatasi oleh jumlah tumbukan yang tercatat sapai sejauh ini. Itu berarti fisikawan akan terus mengumpulkan data dan analisis mereka. Para peneliti datang dengan temuan terakhir mereka dengan melakukan analisis data buta, sehingga mereka tidak melakukan bias terhadap analisis mereka berdasarkan apa yang mereka diamati.
Mereka telah mengirimkan hasilnya ke jurnal Physical Review D. WE KNOW NOTHING IS BETTER WE KNOW ALLTHING? Mengapa demikian? Bukankah mengatahui segala hal lebih baik di banding tidak mengetahui hal apa pun? Mungkin kita pernah mendengar pepatah yang berbunyi “manusia tidak pernah puas”, saya menangkap pepatah ini dalam dua pengertian yakni negatif dan positif.
Negatif karena terkadang dalam kehidupan ekonomi manusia tidak pernah puas akan apa yang telah dimilikinya dan terus mencoba melebihi apa yang sudah jadi batas kemampuannya, sehingga sehingga hidupnya bersifat konsumtif bukan produktif.
Positif karena manusia tak pernah puas akan ilmu, pengetahuan, informasi, dsb yang dimilikinya sehingga manusia akan terus dan terus belajar dalam hidupnya. Inilah maksud dari “We Know Nothing” sebagai manusia terus belajar dan menggali ilmu adalah hak tiap individu. Dalam menggali ilmu (pendidikan) biasanya kita langsung berfikir tentang sekolah padahal menggali ilmu itu sendiri dibagi menjadi 2 macam, formal dan non formal.
Pendidikan formal: merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal: paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.
 Program – program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya. Dalam dunia yang terus berkembang, tentu kita dituntut untuk terus belajar dan menggali informasi.
Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam menggali informasi baik itu membaca, bergaul, bermain, dsb kita bisa mendapatkan informasi bahkan belajar suatu hal. Kita harus membuka wawasan kita ke lingkungan sekitar, kita harus membuka mata dan telinga akan apa yang ada di sekitar kita karena apa yang kita dapatkan di sekolah maupun perkuliahan tidak akan bermakna jika kita tidak mengaplikasikannya di masyarakat.
Di era globalisasi ini setiap individu memang dituntut lebih kreatif, kekreatifitasan ini tentu bisa didapatkan dari masyarakat. Orang yang menutup mata-telinganya akan apa yang ada dan terjadi di masyarakat tidak akan pernah berkembang.
 Menutup mata-telinga maksudnya adalah tidak mau mencari akan informasi dari lingkungan sekitar, baik itu dalam dunia nyata maupun dunia maya. Belajar tentu harus memiliki motivasi tertentu, mengapa demikian? Ini dikarenakan belajar haruslah berdasarkan niat dari diri individu itu sendiri.
Dengan adanya niat yang kuat akan muncul suatu motivasi yang membuat belajar menjadi semakin mengasyikan. Belajar yang monoton akan menimbulkan suatu kejenuhan. Inilah yang sedang marak terjadi di pendidikan Indonesia. Begitu banyak tuntutan kepada murid baik itu tugas maupun materi pada kurikulum yang padat dan berubah-ubah.
Saat saya di SMA, guru saya pun ikut kerepotan akan kurikulum pendidikan yang padat dan kerap kali berubah. Menurut saya situasi seperti inilah yang membuat siswa-siswi stress, terbebani dalam belajar, dsb.
Hal tersebut bisa kita lihat dari perilaku siswa-siswi di sekolah seperti: bolos sekolah, nongkrong setelah pulang sekolah (dengan anggapan untuk refreshing), dsb. Mungkin ada benarnya kalau belajar itu tidak boleh enaknya saja, namun kita seharusnya mencontoh negara maju yang memiliki system pendidikan lebih efektif.
Kita ambil contoh dari Jepang, berikut adalah salah satu sekolah menengah atas ternama di negeri matahari tersebut** : Kita telah membahas apa maksud dari “WE KNOW NOTHING” , belajar dalah kata kata kuncinya. Lalu bagaimana dengan “WE KNOW ALLTHING” mengapa mengetahui segala hal tidak jauh lebih baik daripada mempelajari berbagai hal? Mengetahui berbagai hal memang didambakan setiap orang, karena ini terkesan menggambarkan orang yang cerdas, pandai, berwawasan luas, dsb.
Namun tahukan kalian akan dampak yang negatif dari “WE KNOW ALLTHING” ini? Kadang orang yang sudah mengetahui segala hal akan menjadi sombong dan malas, karena dia merasa dirinya telah mencapai titik puncak dari suatu pengetahuan.
Ini juga bisa berdampak ke hubungan sosial, orang di sekitarnya tidak akan memiliki interesting dalam berbicara dengan dirinya. Ini hanya sebagai contoh mengapa “WE KNOW ALLTHING” tidak lebih baik dari “WE KNOW NOTHING” karena menurut saya ini hanyalah perbedaan paham dan cara kita memandang bagaimana kita menghadapi ilmu pengetahuan dan informasi di sekitar kita.
Mudah saja, orang yang berfikiran “WE KNOW NOTHING” akan terus berkembang dibandingkan dengan orang yang berfikiran “WE KNOW ALLTHING”. Tom Krause mengatakan bahwa “Jika kau hanya melakukan apa yang kau tahu bisa kau kerjakan, kau tidak akan bisa berbuat lebih.”
Tom Krause (1934), motivator, guru, dan pelatih”. Kalimat emas ini jelas menggambarkan jika kita hanya melakukan apa yang kita bisa dan ketahui itu hanyalah akan menjadi sia-sia, karena kita tidak akan mendapatkan hal yang berguna untuk masa depan kita. Mencoba hal baru adalah hal yang dianjurkan dalam quotes ini, karena dengan bereksperimen akan hal yang belom pernah kita lakukan akan memberikan pengetahuan baru yang tentunya akan berguna untuk masa depan kita.
Kita tahu pengalaman adalah guru yang paling baik, maka dari itu dengan kita mencoba berbagai hal kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang membuat kita menjadi semakin matang.
Masa muda adalah masa yang berapi-api, begitulah yang dikatakan oleh raja dangdut Indonesia bang haji Rhoma Irama. Menurut saya hal ini sangat positif dalam pengertian semangat yang tinggi dalam meraih cita-cita juga berbagai hal tentang hidup.
Hal tersebut juga bisa digunakan di berbagai macam hal, sebagai contoh berikut ini adalah tips untuk menjalankan bisnis dari sebuah pengalaman****: Orang yang belajar dari pengalaman hidupnya adalah orang yang tergolong “WE KNOW NOTHING” karena dia selalu belajar akan apa yang pernah dialaminya maupun akan apa yang ada di depannya.
 Dengan terus belajar dan berdoa tentu bisa meraih sukses. Tanpa perlu meniru orang lain kita pun bisa meraihnya dengan cara kita sendiri. Socrates “Bagi saya, all I know is that I know nothing , karena ketika aku tidak tahu apa keadilan, aku tidak akan tahu apakah itu semacam kebajikan atau tidak, atau apakah orang yang memiliki itu bahagia atau tidak bahagia”. Diogenes Laertius Socrates seperti dikutip dalam Kehidupan Eminent Filsuf • Aku tahu apa-apa kecuali kenyataan ketidaktahuan saya. • Seringkali ketika melihat massa hal untuk dijual, ia akan berkata pada dirinya sendiri, ‘Berapa banyak hal Aku tidak membutuhkan! ” • Memiliki paling sedikit ingin, saya terdekat kepada para dewa. • Hanya ada satu yang baik, pengetahuan, dan satu jahat, kebodohan.
 Varian: Satu-satunya kebaikan adalah pengetahuan dan kejahatan satu-satunya adalah kebodohan. Plato terkenal akun sidang dan kematian Socrates. • Saya melakukan apa-apa tetapi pergi tentang membujuk kalian semua, tua dan muda sama, tidak mengambil pemikiran bagi orang-orang atau properti Anda, tetapi dan terutama untuk peduli terhadap peningkatan terbesar jiwa.
Saya memberitahu Anda bahwa kebajikan tidak diberikan oleh uang, tetapi bahwa dari kebajikan datang uang dan setiap yang baik lainnya manusia, publik maupun pribadi.
Hal ini mengajar saya, dan jika ini adalah doktrin §yang  Kehidupan yang tidak teruji bukan kehidupan yang berharga. Sebuah kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan yang berharga. Kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan bagi manusia. Hidup tanpa penyelidikan bukan kehidupan yang berharga bagi pria. •
 Jam keberangkatan telah tiba, dan kami menempuh jalan kami – aku mati dan kamu untuk hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhan yang tahu. o Apakah Kita Tahu Tidak? Saya pikir jawaban simplist adalah kita tahu NOTHING tentang gravitasi.
there is only theory on what gravity actually is… hanya ada teori tentang apa sebenarnya gravitasi … all we know are its effects. semua kita tahu dampaknya. for example the mayans knew with amlost perfect accuracy about the suns behavior to such a degree that they could predict the earths presession.
misalnya Maya tahu dengan akurasi yang sempurna atau hampir tentang perilaku matahari sedemikian rupa sehingga mereka bisa memprediksi PreSession bumi. Buut they had absolutly no knowledge of anything ABOUT the sun, like nuclear fusion and photons.
Absolutly Buut mereka tidak tahu apa-apa TENTANG matahari, seperti fusi nuklir dan foton. That is pretty much where we are at the moment. Itu cukup banyak di mana kita berada pada saat ini. We understand gravity’s behavior with an extraordinary degree of accuracy, however we know absolutly nothing about gravity. K
ami memahami perilaku gravitasi dengan tingkat akurasi yang luar biasa, namun kita tahu absolutly apa-apa tentang gravitasi Ini menyesatkan. Jika Anda melihat hati-hati di segala sesuatu yang Anda pikir Anda tahu, Anda akan melihat bahwa semua yang Anda tahu adalah sebenarnya hanya kemampuan Anda untuk menjelaskan sesuatu.
Pengetahuan dari serangkaian sifat dan perilaku dari sesuatu adalah apa yang merupakan kemampuan Anda untuk mengatakan bahwa Anda tahu apa itu. Sekarang tidak berarti bahwa Anda tahu SEMUANYA tentang itu, tapi jelas tidak memungkinkan Anda untuk mengatakan Anda tahu NOTHING tentang hal itu.
Fisika hanya itu – kemampuan kita untuk menggambarkan perilaku dari suatu sistem. Tidak ada bukti yang lebih besar untuk menunjukkan bahwa kita tahu sedikit tentang sesuatu ketika kita dapat membuat prediksi kuantitatif dari apa sesuatu yang akan dilakukan. Lihatlah elektronik modern Anda. Saya bahkan akan mengatakan bahwa kita tahu lebih banyak tentang gravitasi dari yang Anda tahu lebih banyak tentang perilaku kerabat terdekat.
Dari artikel tersebut saya menyimpulkan bahwa kita semua merupakan sekumpulan manusia yang tidak lebih tahu dari Dzat Yang Maha Tahu. Maka pantaslah we know nothing berada di tubuh kita. Jika we know nothing sudah tertanam di dalam sanubari kita maka diri kita akan merasa hina, karena pada intinya kita adalah makhluk yang tidak tahu apa-apa.
Yang jadi pertanyaan sekarang adalah berapa banyak manusia yang sombong akan kepintarannya, padahal pada intinya ia tidak tahu apa-apa. Bangga akan tahtanya padahal ilmu yang ia punya belum seberapa. Mengapa itu semua bisa terjadi? Karena kebanyakan dari mereka tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.
Sumber : www.physicsforums.com/showthread.php?t=249229 www.wikipedia.org www.gogle.com

Sabtu, 23 Oktober 2010

BERAS -NASI


BERAS -NASI

Nasi, sesuatu yang tidak asing lagi di telinga kita. Bentuknya putih, lonjong dan juga merupakan makanan pokok di Asia, termasuk Indonesia. Santapan yang dapat dinikmati oleh semua golongan, dari masyarakat hingga para pejabat, dari tukang duren hingga bapak Presiden. Nasi putih, dikonsumsi oleh lebih dari 500 juta jiwa di Asia Tenggara sendiri. Mulai dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan seterusnya.
Sejarah sebutir padi. Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar.
Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae). Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang dimakan orang.
Asal-usul padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika.
Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.
Hingga sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.
Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki “ekor” atau “bulu” (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-”bulu” atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar ‘IR8', yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar ‘Deegeowoogen’ dari Formosa) dengan indica (kultivar ‘Peta’ dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim. Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica (“japonica daerah sejuk” dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica (“japonica daerah tropika” dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.
Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon. Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi. (id.wikipedia.org)
Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut ‘palea‘ (bagian yang ditutupi) dan ‘lemma‘ (bagian yang menutupi).
Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.
Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:
    * amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang
    * amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket
Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.
Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin.
Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras.
Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.
Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg).
Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.
Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain. (id.wikipedia.org)
Nasi adalah beras (atau kadang-kadang serealia lain) yang telah direbus (dan ditanak). Proses perebusan beras dikenal juga sebagai ‘tim’. Penanakan diperlukan untuk membangkitkan aroma nasi dan membuatnya lebih lunak tetapi tetap terjaga konsistensinya. Pembuatan nasi dengan air berlebih dalam proses perebusannya akan menghasilkan bubur.
Warna nasi yang telah masak (tanak) berbeda-beda tergantung dari jenis beras yang digunakan. Pada umumnya, warna nasi adalah putih bila beras yang digunakan berwarna putih. Beras merah atau beras hitam akan menghasilkan warna nasi yang serupa dengan warna berasnya. Kandungan amilosa yang rendah pada pati beras akan menghasilkan nasi yang cenderung lebih transparan dan lengket. Ketan, yang patinya hanya mengandung sedikit amilosa dan hampir semuanya berupa amilopektin, memiliki sifat semacam itu. Beras Jepang (japonica) untuk sushi mengandung kadar amilosa sekitar 12-15% sehingga nasinya lebih lengket daripada nasi yang dikonsumsi di Asia Tropika, yang kadar amilosanya sekitar 20%. Pada umumnya, beras dengan kadar amilosa lebih dari 24% akan menghasilkan nasi yang ‘pera’ (tidak lekat, keras, dan mudah terpisah-pisah).
Nasi dimakan oleh sebagian besar penduduk Asia sebagai sumber karbohidrat utama dalam menu sehari-hari. Nasi sebagai makanan pokok biasanya dihidangkan bersama lauk sebagai pelengkap rasa dan juga melengkapi kebutuhan gizi seseorang. Nasi dapat diolah lagi bersama bahan makanan lain menjadi masakan baru, seperti pada nasi goreng, nasi kuning atau nasi kebuli. Nasi bisa dikatakan makanan pokok bagi masyarakat di Asia, khususnya Asia Tenggara.
Nasi merupakan  makanan pokok yang mengandung gizi. Sebab didalamnya terdapat unsur-unsur yang dapat diubah menjadi energi. Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 kalori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.
Tapi ingat, sebutir nasi tidak serta merta langsung menjadi sebutir nasi yang dapat disantap seperti saat ini. Membutuhkan proses yang panjang, dimulai dari pengolahan tanah, persemaian , penanaman bibit, barulah setelah waktu yang ditentukan padi bisa dipanen, belum selesai sampai disana, padi harus digiling sehingga kulit-kulitnya mengelupas, sehingga mendapatkan butir beras yang siap dimasak menjadi sebuah nasi yang dapat dihidangkan. Berikut ini ada beberapa filosofi beberapa orang tentang nasi
KabarIndonesia – Sepiring nasi. Tidak banyak. Tapi, di sana ada pelajaran hidup. Sepiring nasi mengajarkan tentang proses yang mesti di jalani dalam hidup dan kehidupan. Tidak ada yang langsung jadi seperti yang di kisahkan dalam cerita Seribu Satu Malam dengan lampu Aladinnya. Tidak ada Sim Salabim, tidak ada Abrakadabra. Kita tidak sedang hidup dalam dunia mimpi.

Untuk bisa menjadi sepiring nasi yang menemanimu saat pagi, siang dan bahkan malam. Nasi-nasi itu sebelumnya hanyalah bulir-bulir padi. Untuk menjadi bulir-bulir padipun, ia harus menerima serangkaian proses.
Petani menjadi pahlawan untuk setiap bulir padi itu. Dari ketika matahari mulai merangkak di langit timur, petani harus bangun. Sering hanya dengan sarapan segelas kopi. Petani menyandang pacul, turun ke sawah. Bermain dengan lumpur, lintah-lintahpun seperti gandrung mengganggunya, menghisap darah petani. Tanah-tanah persawahan di cangkul oleh sang pahlawan itu. Setelah menunggu sampai beberapa lama hingga bisa di tanami. Kembali, terjun ke sawah untuk menanaminya. Menjaga hingga beberapa bulan yang melelahkan. Tidak mengacuhkan matahari yang membakar, keringat yang mengucur deras. Hingga, kilau memancar dari setiap bulir padi di tengah persawahan. Sejuk dan sangat indah.
Burung-burung pipitpun terlihat begitu kegirangan, tak bisa menahan hasratnya untuk sekedar mencicipi beberapa biji padi. Sampai kemudian, tiba saatnya padi itu harus di pisahkan dari batangnya, di potong oleh petani dengan senyum sumringah oleh panen yang bakal ia tuai.
Untuk memotong juga tidak cukup dengan waktu yang sebentar saja, tapi sampai berhari-hari. Petani tidak menghitung, berapa ribu liter sudah  peluh mengucur dari tubuhnya. Setelah selesai padi harus di bawa ke penggilingan. Padi itu di rontokkan kulit-kulitnya hingga berubah warna dari kekuningan menjadi putih. Namanya berubah menjadi beras, menggoda perut-perut yang lapar. Tapi,  tentu saja, beras ittu tidak bisa langsung ditelan. Beras itu harus di cuci dan di panaskan di atas api.
Beberapa bulan yang lalu beras itu harus di panggang di bawah matahari. Setelah di panen, menjelang di giling juga harus di jemur di bawah matahari. Panas, dan untuk menjadi nasi juga harus menerima panas lagi dari api di tungku. Bulir-bulir beras itu musti rela kembali di bakar dengan api sampai menjadi nasi. Sebuah proses yang lumayan panjang.
Persis sama juga dengan ulat-ulat di dedaunan yang harus menjalani waktu yang tidak singkat untuk bisa menjadi seekor kupu-kupu yang meneduhkan pandangan.
Alam memberi pelajaran pada proses yang harus di jalani dalam hidup. Untuk bisa menerima sesuatu yang berharga, serangkaian kepahitan menjadi satu syarat. Keberhagaan hidup bukan hadiah tak berimbalan. Ia adalah buah dari setiap yang kita tabur. Satu piring nasi tidak bisa mengeyangkan ketika tangan masih enggan untuk terayun menyuapkan nasi itu ke rongga mulut.
Tak pelak, kesediaan menerima semua proses itu berjalan menjadi satu hal yang mutlak harus. Kita sendiri dulu hanyalah seorang bayi yang tidak berdaya, tidak memahami kenapa harus terlahir. Lahir tanpa membawa apa-apa. Telanjang saja berbaju lendir dan darah dari rahim ibu. Serangkaian proses telah menjadikan kita sebagai remaja dan kemudian dewasa. Kelak kita juga menjadi tua.
Namun, akankah kita membiarkan hidup berjalan begitu saja tanpa ada upaya untuk bisa membuat dan melakukan sesuatu yang berharga? Tentu, kita takkan menginginkan diri kita ini hanya lahir, hidup dan lantas mati. Karena pikiran dan segenap anggota tubuh yang telah di anugerahkan Tuhan sangatlah berharga. Kitapun yakin Ia ciptakan semua ini tidaklah asal jadi. Ia tahu yang kita butuhkan.
Kasihan sekali jika kita sampai hari ini masih belum tahu fungsi dari setiap inci anggota tubuh yang di beri-Nya. Taburlah harapan kebaikan. Pergunakan semua yang di berikan Tuhan dengan optimal, hingga kita bisa menghadirkn sesuatu yang BESAR untuk wajah bumi ini. Bisa di lihat oleh keturunan yang hidup di kemudiannya. Walau niat kita tidak sesederhana sekedar untuk mengundang decak kagum mereka. Melainkan kontribusi tulus yang di dedikasikan untuk perkembangan manusia masa depan secara keseluruhan.

(shout.indonesianyouthconference.org/article/rakapradsmadji/1179-filosofi-nasi) – Beras itu pun siap masak dan siap untuk disantap. Coba pikirkan bahwa semua ujian dan semua cobaan itu akan berhasil pada akhirnya akan menjadi sebuah pencapaian yang berarti bagi kita. Sebuah hasil akhir yang sangat memuaskan, yang sangat nikmat yang adalah diri kita sendiri.
Nasi juga merupakan hidangan tradisional, contohnya nasi tumpeng. Nasi tumpeng tidak begitu saja dibuat melainkan ada maksud tesendiri. Tumpeng adalah sesajian khas masyarakat Jawa yang senantiasa kita jumpai dalam berbagai upacara, seperti slametan, kenduri, bersih desa, maupun syukuran. Bahkan dewasa ini nasi tumpeng tidak hanya digunakan untuk upacara keagamaan yang bersifat sakral, tetapi juga untuk perayaan-perayaan yang bersifat profan, seperti han ulang tahun, syukuran awal pembukaan film, syukuran pembukaan tempat usaha, dan lain-lain. Nasi yang dibentuk kerucut ini biasa diletakkan di atas tampah (nampan dan anyaman bambu berbentuk bulat) dengan dikelilingi lauk-pauk dan sayuran di sekelilingnya. Barangkali semua orang bisa mengatakan bahwa nasi tumpeng adalah simbol dari sebuah gunung, namun mungkin hanya sedikit orang yang bisa memahami mengapasimbol gunung menjadi begitu dominan di dalam tradisi sesaji Jawa.
Kedekatan antara masyarakat Jawa dengan gunung, yang sudah tertanam sejak mereka masih anak-anak, menyebabkan mereka membuat miniatur gunung ke dalam bentuk sesaji ketika sedang melakukan suatu tindakkan keagamaan (baik yang dilakukan oleh umat Islam, Kristen, maupun Hindu, karena orang Jawa pada umumnya tidak memperdulikan apapun latar belakang agama mereka, yang penting mereka mewujudkan rasa bakti mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan persembahan berbentuk “miniatur gunung” tersebut). Fenomena gunung yang dikelilingi oleh berbagai kehidupan tumbuhan dan binatang di lereng-lerengnya direpresentasikan dalam bentuk nasi yang dicetak berbentuk kerucut dan dihiasi dengan sayur-sayuran dan lauk pauk di sekeliling kakinya. Mengapa nasi menjadi bahan utama untuk membuat tumpeng. Tidak lain dikarenakan nasi adalah makanan pokok bagi masyarakat Jawa, sehingga nasi pulalah yang dijadikan sebagai bahan utama membuat tumpeng.Sedangkan sayur-sayuran dan lauk pauk di sekeliling tumpeng melambangkan tumbuh-tumbuhan (khususnya tanaman hasil bumi) dan binatang (khususnya ternak) yang dihidupi oleh gunung tersebut.
Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.
Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di mana pun orang berada, meski harus merantau, haruslah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya. fahmee76.wordpress.com/2010/07/05/filosofi-nasi-tumpeng/
Jadi kesimpulannya, dari sebutir nasi  ini, kita dapat mengambil pelajaran. Cobalah kita bayangkan jika beras itu jati diri kita. Dimulai dari awal pertumbuhan. Pengolahan tanah itu seperti lingkungan sekitar kita. Persemaian itu kita ibaratkan sewaktu kita masih di dalam kandungan ibu. Penanaman bibit seperti masa kanak-kanak kita yang diberikan pendidikan yang baik dan benar, sehingga dewasa menjadikan kita manusia yang berakhlak dan mempunyai pendidikan yang baik. Barulah setelah waktu yang ditentukan padi siap dipanen, ini berarti kita sudah menjadi manusia yang dewasa. Padi yang telah dipanen harus digiling untuk menghasilkan beras yang bersih. Ini berarti setelah kita dewasa, kita harus menghadapi beberapa cobaan, sehingga kita dapat hidup dan diterima oleh masyarakat luas
Satu hal lagi yang kita semua bisa petik dari nasi adalah, nasi adalah nasi. Dari mana pun, nasi Jepang, Nasi Indonesia, Setra Ramos, Rojolele, Pandan Wangi, apapun, jika dimasak akan menjadi nasi. Nasi goreng, nasi kuning, nasi kucing, apapun bumbunya, apapun warnanya, apapun rasanya bahan dasarnya adalah nasi. Begitu pula kita manusia. Bagaimanapun kita menghias diri, menutup diri, menolak diri, membuat diri kita pedas, asin, asem, manis, kuning, putih, coklat, merah kita adalah diri kita sendiri. Kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa kita diciptakan sebagai kita sendiri.
Janganlah membuang waktu dengan mencoba menjadi makanan lain jika kamu memang diciptakan sebagai beras. Jadi intinya, kita adalah diri kita sendiri. Di manapun kita berada, siapapun kita ini, peganglah teguh jati diri kita karena itu adalah kekuatan kita. Jadilah sebuah bibit unggul, yang akan membuat sepiring nasi yang nikmat disantap.
Satu kehebatan nasi, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, cuaca panas maupun dingin. Ketika nasi sudah dihidangkan, dapat mengumpulkan manusia dari manapun tanpa melihat perbedaan. Nasi itu hebat ya? Namun jika kita lihat sekarang, banyak manusia yang tidak tahu arti dari sebutir nasi. Contohnya, banyak orang yang makan nasi berlebihan, sehingga nasi yang berlebihan itu dibuang begitu saja, tanpa memikirkan rakyat jelata yang kelaparan yang rela berpanas-panasan di jalanan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.  Adakah rasa untuk saling berbagi? Jawabannya ada pada diri anda.


NAMA            : ACHMAD RIVA’I
NPM               : 10110088
KELAS           : 1KA21
URL BLOG    : http://rastafara-achmadrivai.blogspot.com